Pertanyaan diatas merupakan sindiran kecil bagi mahasiswa yang masih
ragu-ragu dengan jurusan yang ia geluti. Jurusan yang di pilih karena kemampuannya
atau hanya ambisi semata. Atau terpaksa karena kedua orang tua atau hanya
menyenangkan mereka. Atau kemungkinan hanya terikut arus zaman kontemporer ini
yang merasa wajib mengikuti dunia perkuliahan.
Menurut pengamatan penulis ada tiga penyebab sehingga
mahasiswa mengambil program studi yang tidak sesuai dengan keahliannya. Pertama,
terkendala karena ekonomi. Mahasiswa yang tidak lulus mengambil program
studi pilihan pertamanya, maka mau tidak mau tetap mengambil program studi apa
saja yang lulus asalkan jurusan itu masih di universitas negeri, karena
disebabkan uang kuliahnya yang murah. Kedua, terpaksa karena kedua orang
tua. Mahasiswa ini sama sekali tidak berniat mau masuk ke UIN-SU, tetapi orang
tuanyalah yang bersikeras memaksanya. Sehingga banyak kita lihat mahasiswa yang
menghambur-hamburkan uang kuliah karena beralasan orang tuanyalah yang ingin
kuliah. Ketiga, mahasiswa yang terlena dengan profesi yang menggiurkan. Misalnya
belakangan ini program studi Ekonomi Islam (EKI) menjadi program studi favorit
yang banyak diminati mahasiswa, karena setelah tammat mereka membayangkan bisa
sebagai pegawai bank dan lain sebagainya yang lebih menjanjikan kehidupan masa
depannya. Padahal dulunya dia tammatan dari pesantren yang diharapkan sebagi
calon ulama.
Walaupun kejadian-kejadian diatas sangat ironi, tetapi bukanlah suatu
penghalang untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang diinginkannya. Karena menuntut
ilmu itu wajib dalam Islam dan sudah menjadi hak bagi masyarakat Indonesia,
sesuai yang dicantumkan dalam UUD 1945, pasal 31 ayat 1 “Setiap warga negara
berhak mendapatkan pendidikan”.
Jurusan yang ragu-ragu, diganti atau konsiten ?
Memang sedikit banyaknya ada juga imbas penempatan program studi
yang kurang tepat. Dilihat dari realita
pada proses perkuliahan, kebanyakan ketika mahasiswa ini mendapatkan kesulitan pada
titik yang menjenuhkan menyebabkan mudah menyerah, putus asa, dan tidak jarang kuliahnya
juga bisa berakhir begitu saja. Sedangkan
dari sisi keilmuannya, kebanyakan setelah tammat keilmuannya serba kurang
karena belum serat mengetahui dari dasarnya. Akibatnya, setelah selesai dari
studinya menyesal karena belum memiliki skill dan pengetahuan yang spesipik
untuk penjajakan karirnya. Jadi, Apakah memang dibutuhkan pendidikan yang
linier itu?
Mengganti program studi bukanlah solusi dari semua ini. Karena program
studi yang tepat atau bukan, yang diminati atau tidak, dan yang dibakati atau
kurang ternyata bukanlah suatu kunci utama keberhasilan. Karena faktanya banyak
kita lihat biografi dosen ,guru besar, maupun orang-orang besar yang telah
berhasil memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda dengan profesi
mereka sekarang, buktinya sekarang mereka bisa sukses. Sebaliknya, banyak juga
kita lihat mahasiswa yang mengambil
program studi yang jauh-jauh telah menyesuaikannya dengan latar belakang
pendidikannya dari awal (linier), namun tetap saja mereka juga bisa gagal.
Jadi, intinya kesuksesan itu tidak terletak pada jurusan melainkan pada diri kita
masing-masing.
Apa Solusinya?
Bagi penuntut ilmu garansinya selain sabar dan khusyu (konsentrasi
dan fokus) ketika belajar adalah keikhlasan. Karena keikhlasan termasuk modal
utama agar kita dapat menjalani program studi kita dengan ceria tanpa keluh
kesah. Kemudian kunci yang dapat membuka pintu kesuksesannya adalah kesunguh-sungguhan.
Sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Asy- Syarh 6-8 “Sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu
urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya
kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. Penjelasan ayat ini telah
sering kita dengar diadopsi menjadi kata-kata wisdom, “Dimana ada kemauan
disitu ada jalan” ternyata kata-kata ini sudah menjadi sunnatullah. Orang bisa sukses karena mereka dulu bekerja
keras, begitu juga dengan orang pintar karena mereka belajar dengan
sungguh-sungguh. Dan apakah mungkin orang yang mendapatkan IPK 4.0 karena
mereka bermalas-malasan?. Wallahu’alam
Bish Showab.
Mantap ustadz
BalasHapusya,,. Man Jadda Wajada....
BalasHapusMan Sarra 'Aladdarbi Washala....
Ahsanta