Sabtu, 28 November 2015

Apakah Jurusan Anda Sudah Tepat Sebagai Mahasiswa Sejati?



Pertanyaan diatas merupakan sindiran kecil bagi mahasiswa yang masih ragu-ragu dengan jurusan yang ia geluti. Jurusan yang di pilih karena kemampuannya atau hanya ambisi semata. Atau terpaksa karena kedua orang tua atau hanya menyenangkan mereka. Atau kemungkinan hanya terikut arus zaman kontemporer ini yang merasa wajib mengikuti dunia perkuliahan.
Menurut pengamatan penulis ada tiga penyebab sehingga mahasiswa mengambil program studi yang tidak sesuai dengan keahliannya. Pertama, terkendala karena ekonomi. Mahasiswa yang tidak lulus mengambil program studi pilihan pertamanya, maka mau tidak mau tetap mengambil program studi apa saja yang lulus asalkan jurusan itu masih di universitas negeri, karena disebabkan uang kuliahnya yang murah. Kedua, terpaksa karena kedua orang tua. Mahasiswa ini sama sekali tidak berniat mau masuk ke UIN-SU, tetapi orang tuanyalah yang bersikeras memaksanya. Sehingga banyak kita lihat mahasiswa yang menghambur-hamburkan uang kuliah karena beralasan orang tuanyalah yang ingin kuliah. Ketiga, mahasiswa yang terlena dengan profesi yang menggiurkan. Misalnya belakangan ini program studi Ekonomi Islam (EKI) menjadi program studi favorit yang banyak diminati mahasiswa, karena setelah tammat mereka membayangkan bisa sebagai pegawai bank dan lain sebagainya yang lebih menjanjikan kehidupan masa depannya. Padahal dulunya dia tammatan dari pesantren yang diharapkan sebagi calon ulama.
Walaupun kejadian-kejadian diatas sangat ironi, tetapi bukanlah suatu penghalang untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang diinginkannya. Karena menuntut ilmu itu wajib dalam Islam dan sudah menjadi hak bagi masyarakat Indonesia, sesuai yang dicantumkan dalam UUD 1945, pasal 31 ayat 1 “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”.
Jurusan yang ragu-ragu, diganti atau konsiten ?
Memang sedikit banyaknya ada juga imbas penempatan program studi yang kurang tepat. Dilihat  dari realita pada proses perkuliahan, kebanyakan ketika mahasiswa ini mendapatkan kesulitan pada titik yang menjenuhkan menyebabkan mudah menyerah, putus asa, dan tidak jarang kuliahnya juga bisa berakhir begitu saja. Sedangkan  dari sisi keilmuannya, kebanyakan setelah tammat keilmuannya serba kurang karena belum serat mengetahui dari dasarnya. Akibatnya, setelah selesai dari studinya menyesal karena belum memiliki skill dan pengetahuan yang spesipik untuk penjajakan karirnya. Jadi, Apakah memang dibutuhkan pendidikan yang linier itu?
Mengganti program studi bukanlah solusi dari semua ini. Karena program studi yang tepat atau bukan, yang diminati atau tidak, dan yang dibakati atau kurang ternyata bukanlah suatu kunci utama keberhasilan. Karena faktanya banyak kita lihat biografi dosen ,guru besar, maupun orang-orang besar yang telah berhasil memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda dengan profesi mereka sekarang, buktinya sekarang mereka bisa sukses. Sebaliknya, banyak juga kita lihat mahasiswa yang  mengambil program studi yang jauh-jauh telah menyesuaikannya dengan latar belakang pendidikannya dari awal (linier), namun tetap saja mereka juga bisa gagal. Jadi, intinya kesuksesan itu tidak terletak pada jurusan melainkan pada diri kita masing-masing.
Apa Solusinya?
Bagi penuntut ilmu garansinya selain sabar dan khusyu (konsentrasi dan fokus) ketika belajar adalah keikhlasan. Karena keikhlasan termasuk modal utama agar kita dapat menjalani program studi kita dengan ceria tanpa keluh kesah. Kemudian kunci yang dapat membuka pintu kesuksesannya adalah kesunguh-sungguhan. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Asy- Syarh 6-8 “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. Penjelasan ayat ini telah sering kita dengar diadopsi menjadi kata-kata wisdom, “Dimana ada kemauan disitu ada jalan” ternyata kata-kata ini sudah menjadi sunnatullah.  Orang bisa sukses karena mereka dulu bekerja keras, begitu juga dengan orang pintar karena mereka belajar dengan sungguh-sungguh. Dan apakah mungkin orang yang mendapatkan IPK 4.0 karena mereka bermalas-malasan?.   Wallahu’alam Bish Showab.






2 komentar: