A.
Umar bin
Abdul Aziz
a. Profil
Nama
lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abil Ash.
Panggilannya adalah seorang khalifah shaleh, Raja yang adil dan khalifah yang
kelima dari khulafa’ur Rasydin (khalifah
yang mendapatkan petunjuk). Dia adalah seorang ahli fikh dari golongan sahabat.
Lahir
di Helwan negara Mesir pada tahun 61 H. Yang dilahirkan dari ibunya yang
bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab. Ciri-cirin Umar bin Abdul Aziz
berbadan kurus, kedua matanya cekung, orangnya sangat ramah dan parasnya
tampan.[1]
Diwajahnya terdapat bekas luka akibat diserang hewan.
Umar
bin Abdul Aziz adalah seorang yang mempunyai prilaku, perawakan dan bentuk
tubuh yang baik, matang pemikirannya, mempunyai identitas yang jelas, pandai
berpolitik, selalu berusaha untuk berbuat adil di setiap tempat dan waktu, luas
pengetahuannya, ahli mengenai ilmu kejiwaaan, terlihat cerdas dan cepat
memahami permasalahan dan seorang yang selalu berserah diri kepada Allah SWT.
b. Pendidikan
Dia
belajar ilmu agama darai para ulama Quraisy, berakhlak seperti mereka dan hal
ini menjadikan dirinya sangat terkenal. Dia telah hafal keseluruhan Al-Qur’an
dalam umur yang masih kecil. Setelah kematian ayahnya, pamannya Abdul malik
mengambilnya untuk hidup bersama anak-anaknya.
Dia
menelesaikan pendidikan awalnya dalam bahasa arab dan juga menghafalkan
Al-qur’an dan Hadis Rasulullah dibawah pengawasan Shalih bin Kaisan dan
beberapa sahabat rasulullah dan pengganti mereka (tabi’in) seperti Abdullah bin Utbah bin Mas’ud. Umar kemudian
menerima pendidikan lanjutan dalam tata bahasa arab, sastra, puisi, dan hadis.
Umar
muda sangat pandai dalam bidang sastra Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Sejumlah
ulama terkemuka masa itu menguji pengetahuannya tentang seluk-beluk hukum Islam
dan hadis-hadis Rasulullah. Dia melalui ujian mereka dengan sangat baik. Tidak
heran, para ulama dan penulis Islam terkemuka seperti Syamsuddin Al-Dzahabi
menganggap Umar sebagai seorang ulam tafsir, hadis, dan fiqih yang kompeten.
Berkat prestasi-prestasi akademisnya, dia dikenal di seluruh Madinah sebagai
salah seorang pangeran Umayyah yang terpelajar.
Sehingga
imam Asy Syafi’i berkata, “Khulafaur Rasydin ada lima, mereka adalah abu bakar
Ash Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin
Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Umar bin Abdul Aziz.” Para ulama sepakat
bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah merupakan salah satu dari Khulafaur Rasydin dan Imam-imam yang mendapat petunjuk.
Sedangkan
Imam Ahmad bin Hambal berkata mengenai-nya, “ sesungguhnya Allah akan mengutus
seseorang menghidupkan kembali agama dan sunnah Rasul-Nya SAW. Dan membantah
kebohongan yang dituduhkan kepada beliau setiap seratus tahun sekali. Dan
setelah aku amati, ternyata dia adalah Umar bin Abdul Aziz pada seratus tahun
pertama dan Imam Syafi’i pada seratus tahun kedua”.[2]
Sebagai
seorang ilmuan yang cerdas dan berbakat, Umar bisa menempati salah satu posisi
pendidikan tertinggi di dunia pada masa itu. Akan tetapi, berkat hubungan
keluarga yang kuat dengan bani Umayyah, dia justru memutuskan untuk mengejar
karier politik. Dia diangkat sebagai Gubernur
Provinsi Khanasarah oleh ayah martuanya, Khalifah Abdul Malik. Umar pun
mengambil alih wilayah ini dan menjadi sangat populer di kalangan penduduk
setempat karena rasa keadilan, kejujuran, dan kesetaraan.[3]
c. Peran
dalam Negara Islam
Setelah
kematian Khalifah Abdul Malik, Al-Walid Menaiki tahta Umayyah dan dia
mempromosikan Umar sebagai Gubernur Madinah. Meski ini sebuah kehormatan yang
luar biasa baginya, Umar menjelaskan kepada Khalifah baru bahwa dirinya tidak
ingin mengikuti jejak para pendahulunya dengan bersikap kejam terhadap penduduk
Madinah. Al-walid setuju dengannya. Umar pun berangkar ke Madinah. Kota
Rasulullah, dimana dia mengahabiskan tahun-tahun pertamanya dengan belajar
dibawah para ulama besar di kota itu.
Meskipun
baru berusia dua puluh lima tahun, Umar menjalankan tugas-tugasnya sebagai
gubernur dengan loyalitas, dedikasi dan pemahaman. Salah satunya buah hasil
pemikirannya adalah merenovasi Masjid Nabawi yang belum terpikir pendahulunya
sejak Marwan bin Hakam.
Umar
menjabat sebagai gubernur Madinah selama enam tahun pada tahun 711. Namun,
setelah Al-Walid wafat pada tahun 715 saudaranya Sulaiman menjadi khalifah.
Sang khalifah sangat menyukai Umar karena
kesetiaannya, prinsip-prinsip, dan kejujurannya. Dia pun mengangkat Umar
sebagai penasehat khusus dan kembali menjadi tokoh kunci dalam pemerintahan
Umayyah. Walaupun pemerintahan khalifah Sulaiman hanya berjalan kurang dari dua
tahun, dia mencalonkan Umar sebagai pengggantinya sebelum kematiannya.
Dengan
menaiki tahta Umayyah pada tahun 717, Umar menjadi salah satu penguas paling
kuat ada zamannya. “Jika kekuasaan cenderung tidak jujur dan kekuasaan mutlak
pasti tidak ujur”. Sebagaiman dinyatakan Lord Acton maka Umar bin Abdul Aziz
pastilah pengecualian dalama hal ini.[4]
Umar
sangat mengkhawatirkan tanggung jawabnya atas semua warga dala Negara Islam
yang begitu luas. Sehingga pernah beliau mengumumkan ketika di masjid “Wahai
manusia, beban kekhalifahan telah diserahkan kepadaku bukan atas pendapatku,
tanpa aku menginginkannya, dan tanpa berkonsultasi dengan seluruh umat Islam.
Aku mencopot kerah kesetiaan kepadaku yang dikalungkan dilehermu sekalian.
Sekarang kalian semua bebas memilih siapa pun yang kalian inginkan sebagai
khalifahmu.” Orang-orang di masjid pun menjawab, “ kami memilihmu sebagai
khalifah kami dan setuju dengan
kekhalifahanmu.” Setelah diam sejenak, Umar kemudian menyatakan, “wahai
manusia, tugasmu adalah menaati orang yang menaati Allah. Dan bukan kewajibanmu
untuk menaati orang yang mendurhakai Allah. Selama aku menaati Allah, maka
taatlah kepadaku. Begitu aku mendurhakai-Nya, engkau sekalian tidak berhutang
ketaatan apapun kepadaku.
Dengan
maklumat bersejarah ini, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memulihkan hak demokrasi
rakyat untuk memilih dan menentukan pemimpin mereka. Ini sebuah presiden yang
mula-mula ditetapkan oleh Rasulullah sendiri dalam pemerintahan Islam, dengan
dukungan penuh masyarakat, Umar memusatkan semua perhatiannya pada
urusan-urusan kerajaan Umayyah yang sanga luas.
d. Pencapaian
Umar bin Abduil Aziz selama memimpin Negara Islam
Khalifah
yang kaya itu dengan menguasai tanah-tanah perkebuanan di Hijaz, Syam, Yaman
dan Bahrain, yang mengahsilkan kekayaan 40.000 dinar tiap tahun, setelah
menduduki jabatan barunya mengambalikan tanah-tanah yang dihibahkan kepadanya
dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamanya serta menjual barang-barang
mewahnya untuk diserahkan hasil penjualannya ke Baitul Mal. Disamping itu ia
mengadakan perdamian antara Amawiyah dan Syi’ah serta Khawarij.
Khalifah
yang adil itu berusaha memperbaiki segala tatanan yang ada di masa
kekhallifahannya, seperti menaikkan gaji untuk para Gubernurnya, memeratakan
kemakmuran dengan memberikan santunan para fakir dan miskin, dan memperbarui
dinas pos. Ia juga menyamakan kedudukan orang-rang non arab yang menempati
sebagai warga negara kelasa dua, dengan orang-orang arab. Ia mengurangi beban
pajak dan menghentikan pembayaran jizyah bagi orang Islam baru.[5]
Selama dua tahun pemerintahannya yang singkat, khalifah Umar bin Abdul Aziz
berhasil memulihkan keadilan, kejujuran, dan kesetaraan di seluruh kerajaan
Umayyah yang luas.
Khalifah
Umar meninggal tahun 101 H. Kematiannya yang mengejutkan dan mengagetkan orang
dalam dunia Islam. Semua orang, tua dan muda, pria dan wanita, Muslim dan
Non-muslim, meneteskan air mata kepadnya. Para ulama berpengaruh seperti Hasan
Al-Basri tidak hanya berdo’a untuknya, tetapi mengenangnya sebagai sebagai
seorang pemimpin teadan.[6]
B.
Nelson
Mandela
a. Profil
Rolihlahla
Mandela lahir di Umtata, Afrika Selatan, anak dari seorang kepala suku. Nama
Rolihlahla kadang diartiakan “pembuat onar”, sementara nama nelson baru
kemudian ditambahkan oleh guru sekolah dasarnya yang membayangkan suatu
kemegahan kerajaan pada masa itu. Masa kecil Mandela cukup damai, ia banyak
menghabiskan waktu mengembala atau
melakukan kesibukan pedesaan yang lain.[7]
Nelson Rolihlahla Mandela lahir pada 18 Juli 1918. Terlahir dari
keluarga kerajaan Thembu dan bersuku Xhosa. Kakek buyut dari ayahnya, Ngubengcuka, adalah
penguasa suku Thembu di Teritori Transkei yang
saat ini menjadi provinsi Eastern Cape di
Afrika Selatan. Salah satu putranya, Mandela, menjadi kakek Nelson dan
sumber nama belakangnya. Karena Mandela adalah satu-satunya putra raja yang
ibunya berasal dari klan Ixhiba, "Dinasti Tangan
Kiri", keturunan cabang kadet keluarga
kerajaannya bersifat morganatik, artinya tidak
berhak mewarisi takhta tetapi diakui sebagai anggota dewan kerajaan yang
jabatannya turun temurun. Karena itu, ayahnya, Gadla Henry Mphakanyiswa,
merupakan kepala suku setempat dan
anggota dewan kerajaan.
Sempat
menyebut kehidupan awalnya didominasi "adat, ritual, dan tabu",
Mandela tumbuh bersama dua saudarinya di kraal ibunya di desa Qunu, tempat
Mandela bekerja sebagai gembala sapi dan menghabiskan waktunya bersama
anak-anak lain. Kedua orang
tuanya buta huruf, namun merupakan penganut Kristen yang taat.[8]
b. Pendidikan
Ibunya
mengirimkan Mandela ke sekolah Methodis
setempat ketika menginjak usia 7 tahun. Dibaptis sebagai Methodis, Mandela
diberi nama depan Inggris "Nelson" oleh gurunya.[
Untuk
mendapatkan keterampilan supaya bisa menjadi anggota dewan penasihat untuk
keluarga raja Thembu, Mandela mengenyam pendidikan menengah di Clarkebury
Boarding Institute di Engcobo, institusi bergaya Barat yang
merupakan sekolah Afrika berkulit hitam terbesar di Thembuland.
Setelah
menyelesaikan Junior Certificate selama dua
tahun, pada tahun 1937 ia pindah ke Healdtown,
perguruan Methodis di Fort Beaufort yang juga
dihadiri sebagian besar anggota keluarga raja Thembu, termasuk Justice. Kepala
sekolah menekankan superioritas budaya dan pemerintahan Inggris, namun Mandela
semakin tertarik dengan budaya Afrika pribumi dan berteman untuk pertama
kalinya dengan orang non-Xhosa, seorang penutur bahasa Sotho, dan
dipengaruhi salah satu guru favoritnya, seorang Xhosa yang mematahkan tabu
dengan menikahi orang Sotho. Selain menghabiskan waktu luangnya dengan berlari
dan tinju, pada tahun keduanya Mandela memutuskan menjadi prefek
Dengan
bantuan Jongintaba, Mandela mengambil gelar Bachelor of Arts (BA) di University of Fort Hare,
institusi kulit hitam elit di Alice, Eastern Cape dengan kurang
lebih 150 mahasiswa. Di sana ia belajar bahasa Inggris, antropologi,
politik, pemerintahan pribumi, dan hukum Belanda Romawi pada tahun
pertamanya. Di akhir tahun pertamanya ia terlibat aksi boikot Students' Representative Council (SRC)
terhadap kualitas makanan, sehingga ia diskors sementara dari universitas; ia
meninggalkan kuliahnya tanpa gelar.
c. Peran
dalam Negara Afrika Selatan
Keterlibatannya
dalam politik dimulai saat ia keluar sekolah College of Fort Hare. Dia mulai
melibatkan diri dalam aksi protes menentang tatanan politik yang menempatkan
orang kulit putih lebih tinggi dari orang
kulit hitam. Keterlibatan inilah yang kemudian menentukan jalan panjang yang
harus dia tempuh dalam memperjuangkan persamaan hak bagi mayoritas kulit hitam
di Afrika Selatan. Selam bertahun-tahun kemudian ia menyaksikan bagaiman
politik apartheid sangat tidak manusiawi. Hanya terkena berkulit hitam orang
bisa kehilangn status sebagai manusia. Mandela meneguhkan hatinya untuk melawan
semua ini. Ia rela meninggal kehidupan desa yang damai, bahkan kariernya
sebagai pengecara, untuk memasuki masa depan yang penuh pengorbanan dan
penderitaaan.
Dalam
situasi ini mandela memilih jalan tanpa kekerasan sebagai strategi. Dia
bergabung dengan Liga Kaum Muda, organisasi pemuda Kongres Nasional Afrika
(ANC). Ia mengambil bagian dalam program perlawanan pasif untuk menentang
aturan agar orang kulit hitam membawa pas jalan dan membuat mereka tetap dalam
posisi budak terus menerus.
Karena
terjadinya gejolak di pemerintahan yang mana dikatakan sebagai pengkhianat dan
oposisi maka ANC termasuk di dialamnya. Maka pemerintah tidak menerima ANC yang
termasuk Mandela adalah meraih reputasi pemimpin orang kulit hitam di ANC tersebut.
Sehingga mandela dipenjara selama lima tahun di Robben Island.
Lebih
dari dua dekade berada dalam penjara, Mandela menjadi simbol perlawanan trhadap
apartheid. Dan para pemimpin dunia terus meminta pemerintah Afrika Selatan
membebaskannya. Sebagai tanggapan atas tekanan dari dalam dan luar negeri.
Presiden F.W. de Klerk pada 2 Februari 1990 mencabut pemberangsungan ANC dan
mengumumkan pembebasan segera Mandela.
d. Pencapaian
Mandela memimpin Negara Afrika Selatan
Ketika
pemilihan umum demokratis berlangsung, Mandela terpelih sebagai presiden Afrika
Selatan. Sebagai presiden, pelbagai hal berat harus Mandela harus hadapi, namun
yang terberat adalah menghilangkan rasa taku minoritas kulit putih. Namun
mandela terbukti mampu mengatasi soal ini karean integritas moral dan fokus
perjuangannya untuk menyatukan satu negara dengan dua warna kulit yang berbeda
itu.mandela membuktikan kembali integritas kepemimpinannya dengan menolak untuk
dipilih kembali pada pemilu 1999.[9]
Ketika
kepemimpinannya sejak tahun 1994-1999 masyarakatnya sangat sejahtera, adil,
mendapatkan anggaran kesejahteraan naik 13% tahun 1996/97, 13% tahun 1997/98,
dan 7% tahun 1998/99. Pemerintah memperkenalkan kesetaraan bantuan untuk
masyarakat, termasuk bantuan orang cacat, bantuan perawatan anak, serta dana
pensiun lansia, yang sebelumnya diberi tingkatan-tingkatan untuk berbagai
kelompok ras Afrika Selatan. Tahun 1994, layanan kesehatan gratis diberikan
untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun dan ibu hamil, suatu peraturan yang
cakupannya diperluas sampai semua pengguna layanan kesehatan sektor publik
tingkat dasar pada tahun 1996. Pada pemilu 1999, ANC mengatakan bahwa karena
kebijakan mereka, 3 juta orang terhubung ke telepon, 1,5 juta anak mengenyam
pendidikan, 500 klinik diperbarui atau dibangun, 2 juta orang terhubung ke
listrik, akses air bersih diperluas samapai 3 juta orang, dan 750.000 rumah
dibangun dengan total penghuni nyaris 3 juta orang.
C.
Perbandingan
Konsep Pemikiran Umar bin Abdul Aziz dengan Nelson Mandela
Hal yang menarik
terhadap dua tokoh ini karena mereka memiliki kasus yang hampir sama, namun
menyelesaikannya dengan metodologi yang berbeda. Adapun perbandingan mereka,
ketika Umar bin Abdul Aziz menjabat
sebagai pemimpin memiiki tantangan, yakni ingin merubah kebiasaaan pemimpin
Umayyah pendahulunya yaitu kasar dan kejam terhadap rakyatnya, adanya pencacian
terhadp khalifah Ali bin Abi Thalib ketika khutbah, kemudian kebiasaan yang bermegah-megah
dalam mengelola harta kekayaan untuk kepentingan keluarga Umayyah saja. Dan
kesungguhannya ingin merubah itu terlihat ketika dia mengundurkan diri sebagai
Gubernur Madinah karena mendapati perbuatan Khalifah yang menyeleweng dengan
menghukum mati orang yang tidak bersalah.
Dan ketika
beliau dijadikan sebagai khalifah semua kebiasaaan buruk yang ada di kerajaan
Umayyah dirubah menjadi kerajaan yang adil persis pada masa Khulafaur Rasydin
sehingga dikatakan beliau termasuk khalifah yang ke lima. Meskipun beliau
menjabat selama dua tahun tetapi keberhasilannya sangat memuncak, keadilan,
kejujuran, dan kesejahteraan telah di dapati oleh rakyatnya pada masa jabatan
yang singkat itu. Sehingga rakyatnya pada masa itu sangat mencintai-nya dan
sampai sekarang masyarakat muslim rindu menantikan kepemimpinan seperti Umar
bin Abdul Aziz.
Dibalik konsep
pemikiran dan kepemimpinan beliau adalah Al-Qura’an dan As-Sunnah. Pada masa
pendidikan-nya ilmu yang pertama kali ia pelajari adalah Al-Qur’an sehingga
beliau hafal, kemudian hadis, fiqih, tafsir. Dan dikenal pada masa itu beliau
termasuk ahli dalam bidang-bidang yang dipelajarinya. Dengan demikian dari ilmu
agama inilah yang menjadi konsep pemikiran yang ia terapkan sehingga ia dikenal
menjadi khalifah bani Umayyah teladan sepanjang masa.
Sedangkan Nelson Mandela, kasus yang ingin di
berantasnya adalah apartheid, yakni
kebiasaan yang membedakan dalam melayani masyarakat yang berkulit hitam dan
kulit putih dan yang mendapat pelayanan yang tidak adil adalah masyarakat yang
berkulit hitam, termasuk diri-nya. Hal ini ia lawan melalui pergerakan melawan
pemerintah sehingga ia di cap sebagai ”penghianat” ataupun sebagai gerakan
oposisi. Sehingga beliau di penjara selama dua dekade. Atas semua pengorabanannya
yang ia lakukan banyak perhatian dari dunia sehingga menuntut supaya
dibebaskan. Dan ketika ia bebas dan pada pemilihan presiden ia terpilih sebagai
presiden.
Sejak
kepemimpiman yang diembannya masyarakat sangat sejahtera, pelayanan merata
tidak ada pembedaan warna kulit, sehingga memang ia benar-benar berhasil
merubah negara Afrika Selatan menjadi negara yang sejahtera.
Dibalik
kepiawaiannya sebagai pemimpin konsep pemikirannya dalam memimpin adalah
integritas dan keadililan yang merupakan efek dari pendidikan beliau ketika di
methodist. Dan dikenal keluarga mereka adalah keluarga yang taat dari agama
kristen. Dengan demikian agamalah konsep yang diambil beliau dalam menjalankan
pemerintahan Afrika Selatan.
Dari
perbandingan dari kedua tokoh ini kita dapat melihat perbedaan dan persamaan.
Mereka sama-sama dari keluarga yang taat dan patuh terhadap ajaran agamanya
masing-masing dan menjadikan itu sebagai pedoman diri dalam membuat kebijakan.
Namun hal yang menarik kita lihat dari sini adalah Umar sebagai orang yang
cendikiawan. Beliau memulai perubahan tersebut dengan ilmu pengetahuan sehingga
beliau dikenal dan dihormati di kerajaan Bani Umayyah sehingga beliau
melewatinya tanpa ada pertumpahan darah maupun kekerasan.
Sedangkan
Mandela melewati perubahan itu dengan konflik yang berkepanjangan sehingga
titik akhir penyelesainnya beliau di penjaradengan menunjukkan kebenaran itu
muncul dan dinilai dunia bahwa Mandela memang benar dan harus di apresiasi dan
dilaksanakan atas tuntutannya agar keadilan harus diterapkan demi tercapainya
masyarakat yang sejahtera.
DAFTAR
PUSTAKA
Buku
Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997
Khoerul Amru Harahap, Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, Jakarta
Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2013
Masturi Irham, dkk., 60 Biografi Ulama Salaf, Jakarta Timur :
Pustaka Al-Kautsar, 2010
Muhammad Mojlum Khan, 100 Muslim Paling berpengaruhsepanjang
sejarah, Jakarta Selatan: Noura Books Mizan Publika, 2012
Susanto, 100 Tokoh Abad ke- 20 Paling Berpengaruh, Bandung : Nuansa, 2008
Internet
http://id.wikipedia.org/wiki/Nelson_Mandela. Di
Download pada pukul : 20:12. Tanggal 28/11/2014
[1] Khoerul Amru Harahap, Tokoh-tokoh
Besar Islam Sepanjang Sejarah, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2013, h.
398
[2] Masturi Irham, dkk., 60 Biografi
Ulama Salaf, Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar, 2010, h. 78
[3] Muhammad Mojlum Khan, 100 Muslim
Paling berpengaruhsepanjang sejarah, Jakarta Selatan: Noura Books Mizan
Publika, 2012, h. 177
[4] Muhammad Mojlum Khan, Ibid, h.
180
[5] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan
Kebudayaan Arab, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997, h. 79
[6] Muhammad Mojlum Khan, Ibid, h.
183
[7] Ready Susanto, 100 Tokoh Abad
ke- 20 Paling Berpengaruh, Bandung : Nuansa, 2008, h.217
[9] Ready Susanto, Ibid, h. 219

Tidak ada komentar:
Posting Komentar