Mendengar kata kepemimipinan saya langsung teringat apa yang dikatakan
oleh nabi Muhammad Saw. Beliau pernah bersabda “Setiap kalian adalah pemimpin
dan tiap-tiap pemimpin akan di mintai pertanggung jawabannya” (HR. Bukhari).
Dalam hadis ini pemimpin di ambil dari kata “Ra’in” yang berarti pengembala. Dan
pengembala itu tugasnya sangat sulit. Karena dialah yang mengarahkan
gembalaannya mau kemana, mau makan apa, dan kapan istirahatnya. Tentunya
menghadapi itu semua pengembala ini harus memiliki ketabahan dan kesabaran.
Agar semua berjalan lancar sesuai yang telah direncanakan.
Memimpin bukanlah hal yang mudah. Pasti banyak permasalahan yang
harus dihadapi. Dan permasalahan itu jarang diketahui seperti apa wujudnya.
Sehingga banyak kita lihat pemimpin yang sudah berpengalamanpun tetap merasa
kesulitan ketika menghadapi masalah. Untuk itu, yang perlu dipersiapkan sejak
dini bukanlah mencari jawaban semua permasalahan-permasalahan yang ada. Tetapi kita
harus jeli mengambil pelajaran dari pemimpin-pemimpin yang sabar dan tabah ketika
mengatur dan menghadapi permasalahan itu sampai tuntas.
Semua orang kenal dengan sosok pemimpin yang dikenal dengan nama
Abu Bakar As-Shiddiq r.a. Rakyatnya memandang khalifah Abu Bakar As-Shiddiq r.a
memang lemah tubuhnya, namun mengenai tanggung jawabnya atas apa yang telah
diamanahkan lebih kuat dibanding Umar Bin Khattab. Sehingga umar pernah angkat
bicara tentang ketegasannya “Demi Allah, tiada lain yang aku lihat selain Allah
telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku pun tahu
bahwa Abu Bakar berada pada posisi yang benar.” (HR. Abu Daud, shahih).
Selama kepemimimpinannya yang singkat beliau banyak menuai prestasi. Diantaranya
beliau menghidupkan kembali wajib zakat, membantai nabi palsu, dan ekspedisi
wilayah sampai ke Irak serta menulis al-Qur’an yang sampai sekarang bisa
dirasakan umat Islam.
Dewasa ini, sangat jarang kita temui pemimpin seperti Abu bakar
As-Shiddiq. Sebab pemimpin sekarang jauh dari karakter nilai-nilai Islam. Karena
minimnya pengetahuan tentang syariat Islam dan kurang memperdalam bagaimana
menjadi pemimpin yang baik sesuai tuntutan al-Qur’an dan Hadis. Padahal Islam
mengajarkan kepada semua penganutnya agar menjadi seorang pemimpin yang
bertanggung jawab. Anehnya, banyak sekarang yang mengatakan pemimpin yang
beragama Islam tidak baik, dengan alasan karena banyak yang korupsi. Ini adalah
pemahaman yang keliru. Mereka hanya menilai satu kasus dan langsung mengatakan
semua pemimpin Islam tidak baik. Seharusnya harus dipelajari dulu dan
disaksikan bagaimana kepemimpinan Islam yang pernah jaya dan memimpin seluruh
dunia. Lantas, bagaimanakah ciri-ciri pemimpin dalam perspektif Islam?
Pertama, pemimpin dalam Islam harus memiliki kesabaran yang kuat. Kesabaran
dalam Islam bukanlah pasrah menerima apa adanya. Tapi sabar adalah keteguhan
yang kuat dalam menjalankan tugas dan menghadapi semua permasalahan. Sifat
sabar ini adalah salah satu ciri-ciri nilai yang harus dimiliki setiap pemimpin
Islam. Semua nabi dan rasul memiliki sifat ini. Dan apabila nabi dan rasul itu
menjalankannya dengan konsisten maka diberi nilai tambah, disebut nabi dan rasul yang Ulul Azmi. Kalau sifat sabar ini
melekat kepada setiap pemimpin Islam, maka semua godaan duniawi seperti korupsi
dapat dihadapi.
Kemudian pemimpin dalam Islam setelah sabar juga harus kuat.
Rasulullah Saw pernah mengatakan kepada Abu Dzar supaya tidak menjadi pemimpin
karena beliau lemah “"Kamu lemah,
dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di
hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim). Amanah yang terbesar
adalah memimpin. Dalam sejarah telah dikabarkan ada yang memipin dunia ini
sebelum manusia. Dan mereka akhirnya saling saling bunuh membunuh bersaing
merebut tonggak kepemimpinan. Dan itu adalah gambaran kekisruan yang terjadi di
bumi ini. Sekarang kepemimpinan itu telah ada di tangan manusia. Ini lah tugas
seorang pemimpin agar siap menghadapi konflik-konflik yang pasti terjadi ketika
memimpin apa pun. Tentunya menghadapi ini pemimpin harus memiliki jiwa yang
kuat, pantang menyerah, dan selalu optimis.
Biasanya, pemimpin Islam juga adalah orang-orang yang cerdas.
Mereka adalah orang-orang yang biasanya menguasai cabang-cabang ilmu
pengetahuan dengan luas. Kita lihat kecerdasan Umar bin Abdul Aziz. Walaupun dia
mengutamakan mempelajari ilmu agama tetapi dia tidak menutup ilmu-ilmu
pengetahuan umum yang berkembang. Pemimpin yang cerdas akan cepat melakukan
tindakan. Ia tidak puas menunggu permasalahan hilang sendiri. Dan sangat jarang
apa yang di putuskan tidak rasional. Karena orang yang cerdas ilmu
pengetahuannya lebih pandai menyelesaikan masalah.
Seorang pemimpin juga harus bisa mengatur waktu dengan baik.
Membagi waktu untuk bekerja, istirahat, beribadah, dan juga kepada keluarga.
Membagi waktu sangat penting sehingga sering disinggung di dalam al-Qur’an. Allah
Swt berfirman : “Demi
masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr:
1-3). Dari ayat ini jelas bahwa waktu itu sangat penting. Karena kenyataannya
memang banyak manusia yang menyesal di akhir-akhir waktunya yang tersisa.
Sehingga kita diingatkan supaya benar-benar bisa mengatur waktu sebaik mungkin
untuk melakukan yang terbaik. Jadi, seorang pemimpin harus bisa mengendalikan
waktu. Skla prioritas ada ditangan keputusan seorang pemimpin. Walaupun dalam
jadwal pekerjaan ada yang diprioritaskan, tapi harus ditekankan bahwa seluruh
program kerja adalah penting. Tujuannya agar semua program kerja tidak ada
ditunda-tunda. Sehingga seorang pemimpin bisa merealisasikan semua program yang
telah direncanakan.
Dan terakhir
adalah tawakkal. Seorang pemimpin harus membungkus semua kelihaian dan kepandaiannya
memimpin dengan tawakkal kepada Allah Swt. Sebesar apapun usaha yang dilakukan
seorang pemimpin tetapi kalau Allah Swt tidak ridho, maka semua yang kita
lakukan bisa menjadi bencana. Untuk itu seorang pemimpin harus lebih dekat
kepada Allah Swt agar apa yang dilakukan seorang pemimpin bisa mendapat
keberkahan di dunia dan di akhirat.
Kelengkapan
menyangkut kepmimpinan dalam Islam itu semua telah dirangkum pada diri Nabi
Muhammad Saw., beliau adalah suri tauladan yang baik. Dia adalah seorang
pemimpin negara yang bijak, beliau juga peimimpin hakim yang adil, pemimpin
rumah tangga yang harmonis, dan semua yang dipimpinnya berjalan dengan baik dan
sukses. Dan ketika di akhir-akhir usia hayat beliau. Dia memberi tahu kunci rahasia kesuksesannya, beliau
bersabda “Wahai sekalian manusia, sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian
sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian kalian tidak
akan tersesat selamanya: (yaitu) Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim)
Jadi, kita
simpulkan bahwa setiap manusia adalah seorang pemimpin. Tinggal pemimpin itu sendiri
mau memimpin seperti apa. Sebagai pemimpin Islam tidak dilarang memakai teori
kepemimpinan dari luar Islam. Asalkan teori itu tidak melanggar syariat Islam. Memimpin
adalah fitrah manusia, karena setiap manusia wajib memimpin diri sendiri
mengarahkan ke arah yang lebih baik. Sebelum bisa memimpin diri sendiri,
janganlah mencoba-coba memimpin orang lain. Di dalam Al-qur’an sudah
diperlihatkan bagaimana orang-orang yang memipin di dunia ini. Sifat-sifat
pemimpin yang berhasil itu telah dirangkum pada diri Rasulullah Saw yang mulia.
Dan apa yang dilakuakannya itulah sebagai konsep pemimpin dalam Islam. Mudah-mudahan
kita dapat mencontoh beliau. “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan
kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin
bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Furqan: 74).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar