Saya merupakan hasil didikan masyarakat yang berada dilingkungan yang kurang bersahabat untuk ta'at. Namun saya masih diberikan Allah hidayah sehingga saya masih mau
berikhtiar untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya. Dengan
memulai hal yang kecil, setidaknya dengan
senantiasa menjalankan shalat lima waktu. Alhamdulillah Allah masih memberikan
saya pertolongan dengan dijauhkan dari perbuatan yang keji dan mungkar.Walaupun
tidak sebersih kain putih. Pasti ada dosa. Namun kita bisa menjadi orang yang the
best apabila kita langsung bertaubat dan mengubah perbuatan kita itu lebih
baik dari yang sebelumnya.
Dilingkungan saya, setelah saya kaji masyarakatnya jarang melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Walaupun ada tetapi sunyi. Setelah saya kaji lebih dalam ini adalah kesalahan saya sendiri. Awalnya saya berargumentasi tidak bersalah karena belum pantas melakukan itu. Dengan beranalogi bagaimana
mungkin orang buta bisa menyebrangkan orang yang cacat. Padahal yang buta tidak
dapat melihat . Penafsirannya, mana mungkin orang mau diajak sedangkan
kita masih belum tahu. Namun pemikiran saya itu dibantah surah an-Nahl ayat 125
yang menyuruh kita mengajak orang kejalan Allah dengan hikmah. Cukup mengajak saja, apalah salahnya kita rangkul teman-teman kita ke Masjid dengan cara yang hikmah.
Kalau dilihat dari arti hikmah adalah bijaksana. Bijaksana dapat
direalisasikan apabila orang yang menyampaikannya memang bijak. Jadi
sebijak-bijak manusia dimuka bumi ini adalah Rasulullah Saw, beliau adalah
teladan yang baik, akhlak beliau adalah akhlak Al-Qur’an, perkataan beliau
adalah wahyu Allah Swt, jadi dengan bahasa lain yang mendidik beliau adalah
langsung dari Allah Swt. Sedangkan saya sendiri perbandingannya sangat
jauh dari apa yang dimiliki Rasulullah Saw. Namun saya tidak putus asa.
Saya kuliah sekarang untuk memperdalam itu agar bisa berdakwah dan memeberikan
pencerahan terhadap ummat. Setidaknya ada percikkan akhlak Rasulullah yang bisa
saya tiru kemudian saya sampaikan kepada masyarakat yang memang membutuhkannya.
Dengan harapan dapat memperbaiki prilaku ummat terkhusus diri saya sendri.
Sekarang tugas berat saya adalah apa yang diperintahkan Rasulullah Saw
yakni “ menyampaikan kebaikan walaupun satu ayat”. Ini kelihatan perbuatan yang
sepele. Tapi saya kadang-kadang menghitungnya satu hari hasilnya nihil, tidak
ada yang disampaikan walaupun satu ayat. Bahkan kalau saya hitung semenjak saya
baligh mungkin masih bisa diperkirakan masih puluhan yang dapat saya sampaikan.
Dan bagaimana saya tidak merasa takut, ketika nanti dipertanyakan di alam kubur
man Nabiyyuka? Ketika saya jawab “nabi Muhammad Saw.” Munkar & nakir
menjawab “Anta Munafik!!!”. Na’uzu billah min jalik. Karena saya merasa
belum banyak melakukan apa yang diperintahkan Nabiyyullah melalui
hadisnya. Jangakankan megamalkannya bahkan terkadang saya lebih suka membaca
novel-novel dibanding hadisnya Rasullah Saw. Apa tidak munafik kalau perbuatan
itu tetap berlanjut, kita mengaku-ngaku ummat Muhammad Saw. Tetapi kita tidak
mengindahkan sunnah-sunnahnya, inilah yang saya takutkan. Mudah-mudahan kita masih
dianggap baginda Nabi Muhammad Saw. Sebagai ummatnya. Amin.
Ada kisah yang membuat saya
berubah menjadi seperti sekarang ini. Walaupun saya biasa-biasa saja. Namun
kalau saya nilai sendiri saya adalah orang yang munafik dulunya. Kisah ini
menginspirasi saya tentang tobatnya
seorang pemuda yang licik. Mari kita ikuti kisah tentang pemuda itu.
Ada seorang remaja yang bernama Rudy. Kebiasaan buruknya adalah berjudi,
disamping dia berbuat seperti itu dia juga ta’at beribadah, yakni mengerjakan
shalat lima waktu. Dengan alasan takut dimarahi keluarga. Karena dikenal
keluarga mereka adalah keluarga yang ta’at. Karena setiap adzan kalau masih
belum bergegas untuk shalat maka dia langsung ditegur orang tuanya mengapa
tidak mengerjakan shalat. Jadi, shalatnya itu karena orang tua, bukan karena lillahi
ta’ala. Perbuatannya yang seperti itu
ia kerjakan dengan mulus,rapi, tanpa ada yang mengetahui dari keluarganya. Dia
shalat, tapi dia juga berjudi. Itu berlangsung begitu lama, dan belum tersadar
walaupun telah mengetahui bahwa perbuatan itu sudah jelas salah. Permisalannya
seperti ini “Apa mungkin bisa diminum air putih dicampur dengan oli. kemungkinan
bisa saja diminum, tetapi ada efeknya dapat menimbulkan penyakit.
Hidayah Allah datang kepada Rudy karena terjadinya suatu insiden yang
mengetuk hatinya. Dia memiliki Uwak, saudara dari mamaknya. Beliau adalah seorang
ustadz. Dan beliau adalah sosok yang sangat dihormati di kampungnya. Rudi dapat
kabar uwaknya itu meninggal dunia. Jadi
ikutlah Rudy ini takziah. Sesampai di tempat. Ia terdiam lama. Ia mendengar bahwa uwaknya itu meninggal ketika
berkhutbah ketika shalat jum’at. Sungguh menggetarkannya, dan dia merinding
mendengar itu. Karena ia juga tahu bahwa ketika kita melakukan kebaikan diakhir
perbuatan kita adalah salah satu tanda-tanda mati dalam keadaan Khusnul
khatimah. Yakni mati dalam keadaan yang dirahmati Allah, dan merupakan
tanda-tanda penghuni surga. Sejak kejadian itu ia sering menangis. Dan berjanji
ingin mengikuti jejak uwaknya yang senang menyampaikan kebenaran walaupun itu
pahit, banyak tantangan, hujatan, caci-makian, ia hadapi dengan senyuman dan
hati yang dingin. Sampai sekarang yang tidak pernah ia lupakan adalah senyuman
uwaknya itu ketika meluruskan orang lain. Tanpa ada yang merasa tersakiti,
ataupun yang merasa digurui. Dan
sangking lembutnya beliau, ketika ia meninggal banyak orang yang kehilangan,
bahkan orang nasrani banyak yang ikut serta berkunjung melihat jasad beliau
diakhir pemakaman. Subhanallah, inilah titik gejolak perubahan Rudy
meninggalkan perbuatannya yang salah selama ini.
Dari sini lah saya tergerak untk menyampaikan kebaikan, walupun hanya
kata-kata yang se-sederhana mungkin. Dengan mengucapkan,” ayo sholat
kawan-kawan”. “Udah adzan kawan-kawan ana duluan ya”. Dengan harapan kita,
mudah-mudahan Allah menggerakkannya. Terkadang ada kawan-kawan yang langsung
bergerak. Alhamdulillah saya ucap dalam hati. Karena dengan adanya orang
yang shalat mengingat Allah Swt maka bumi ini masih dirahmati Allah Swt., bala
dijauhkan Allah, dan kasih sayang masih diberikan Allah Swt diantara kita.
Untuk itu kita sebagai mahasiswa mulai sekarang harus berfikir jauh
tentang kemaslahatan ummat dan terutama alam jagat raya ini. Ini tidak akan dapat
kita selamatkan kecuali dengan pertolongan Allah Swt. Dan mendapatkan
pertolongan Allah Swt tidak ada cara lain kecuali seperti yang dilakukan Nabi
Muhammad Saw. sebagai Rahmatan Lil ‘alamin. Yakni melakukan kebaikan dan
menyampaikannya kepada orang lain. Mudah-mudahan kita termasuk pewaris Rahmatan
Lil ‘Alamin. Wallahu a’lam bis shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar