Minggu, 29 November 2015

Syukurilah



      Nikmat Islam adalah nikamat yang terbesar kita miliki. Dengan merenungkan nikmat ini saja mungkin sudah cukup alasan kita untuk bersyukur. Berapa banyak manusia di dunia ini yang memiliki agama yang berbeda-beda, namun agama yang diterima disisi Allah adalah agama Islam, yakni agama yang kita anut.
      Di dalam kitab Minhajul Abidin karya imam Al-Ghazali  ada dua alasan mengapa umat Islam harus bersyukur. Pertama, kita bersyukur agar nikmat yang diberikan Allah kepada kita senantiasa tetap bersama kita. Dan yang Kedua, agar nikmat yang diberikan Allah bertambah lebih banyak lagi. Allah Swt berfirman yang artinya:
       Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu Memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan Menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab –Ku sangat berat.”
(QS. Ibrahim : 7)

PERBANDINGAN DUA TOKOH PEMIMPIN HEBAT DUNIA ANTARA ISLAM DAN NON ISLAM




UMAR BIN ABDUL AZIZ DENGAN NELSON MANDELA

A.    Umar bin Abdul Aziz
a.       Profil
Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abil Ash. Panggilannya adalah seorang khalifah shaleh, Raja yang adil dan khalifah yang kelima dari khulafa’ur Rasydin (khalifah yang mendapatkan petunjuk). Dia adalah seorang ahli fikh dari golongan sahabat.
Lahir di Helwan negara Mesir pada tahun 61 H. Yang dilahirkan dari ibunya yang bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab. Ciri-cirin Umar bin Abdul Aziz berbadan kurus, kedua matanya cekung, orangnya sangat ramah dan parasnya tampan.[1] Diwajahnya terdapat bekas luka akibat diserang hewan.
Umar bin Abdul Aziz adalah seorang yang mempunyai prilaku, perawakan dan bentuk tubuh yang baik, matang pemikirannya, mempunyai identitas yang jelas, pandai berpolitik, selalu berusaha untuk berbuat adil di setiap tempat dan waktu, luas pengetahuannya, ahli mengenai ilmu kejiwaaan, terlihat cerdas dan cepat memahami permasalahan dan seorang yang selalu berserah diri kepada Allah SWT.

b.      Pendidikan
Dia belajar ilmu agama darai para ulama Quraisy, berakhlak seperti mereka dan hal ini menjadikan dirinya sangat terkenal. Dia telah hafal keseluruhan Al-Qur’an dalam umur yang masih kecil. Setelah kematian ayahnya, pamannya Abdul malik mengambilnya untuk hidup bersama anak-anaknya.
Dia menelesaikan pendidikan awalnya dalam bahasa arab dan juga menghafalkan Al-qur’an dan Hadis Rasulullah dibawah pengawasan Shalih bin Kaisan dan beberapa sahabat rasulullah dan pengganti mereka (tabi’in) seperti Abdullah bin Utbah bin Mas’ud. Umar kemudian menerima pendidikan lanjutan dalam tata bahasa arab, sastra, puisi, dan hadis.
Umar muda sangat pandai dalam bidang sastra Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Sejumlah ulama terkemuka masa itu menguji pengetahuannya tentang seluk-beluk hukum Islam dan hadis-hadis Rasulullah. Dia melalui ujian mereka dengan sangat baik. Tidak heran, para ulama dan penulis Islam terkemuka seperti Syamsuddin Al-Dzahabi menganggap Umar sebagai seorang ulam tafsir, hadis, dan fiqih yang kompeten. Berkat prestasi-prestasi akademisnya, dia dikenal di seluruh Madinah sebagai salah seorang pangeran Umayyah yang terpelajar.
Sehingga imam Asy Syafi’i berkata, “Khulafaur Rasydin ada lima, mereka adalah abu bakar Ash Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin  Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Umar bin Abdul Aziz.” Para ulama sepakat bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah merupakan salah satu dari Khulafaur Rasydin dan Imam-imam yang mendapat petunjuk.
Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal berkata mengenai-nya, “ sesungguhnya Allah akan mengutus seseorang menghidupkan kembali agama dan sunnah Rasul-Nya SAW. Dan membantah kebohongan yang dituduhkan kepada beliau setiap seratus tahun sekali. Dan setelah aku amati, ternyata dia adalah Umar bin Abdul Aziz pada seratus tahun pertama dan Imam Syafi’i pada seratus tahun kedua”.[2]
Sebagai seorang ilmuan yang cerdas dan berbakat, Umar bisa menempati salah satu posisi pendidikan tertinggi di dunia pada masa itu. Akan tetapi, berkat hubungan keluarga yang kuat dengan bani Umayyah, dia justru memutuskan untuk mengejar karier politik. Dia diangkat sebagai Gubernur  Provinsi Khanasarah oleh ayah martuanya, Khalifah Abdul Malik. Umar pun mengambil alih wilayah ini dan menjadi sangat populer di kalangan penduduk setempat karena rasa keadilan, kejujuran, dan kesetaraan.[3]

c.       Peran dalam Negara Islam
Setelah kematian Khalifah Abdul Malik, Al-Walid Menaiki tahta Umayyah dan dia mempromosikan Umar sebagai Gubernur Madinah. Meski ini sebuah kehormatan yang luar biasa baginya, Umar menjelaskan kepada Khalifah baru bahwa dirinya tidak ingin mengikuti jejak para pendahulunya dengan bersikap kejam terhadap penduduk Madinah. Al-walid setuju dengannya. Umar pun berangkar ke Madinah. Kota Rasulullah, dimana dia mengahabiskan tahun-tahun pertamanya dengan belajar dibawah para ulama besar di kota itu.
Meskipun baru berusia dua puluh lima tahun, Umar menjalankan tugas-tugasnya sebagai gubernur dengan loyalitas, dedikasi dan pemahaman. Salah satunya buah hasil pemikirannya adalah merenovasi Masjid Nabawi yang belum terpikir pendahulunya sejak Marwan bin Hakam.
Umar menjabat sebagai gubernur Madinah selama enam tahun pada tahun 711. Namun, setelah Al-Walid wafat pada tahun 715 saudaranya Sulaiman menjadi khalifah. Sang khalifah sangat menyukai Umar  karena kesetiaannya, prinsip-prinsip, dan kejujurannya. Dia pun mengangkat Umar sebagai penasehat khusus dan kembali menjadi tokoh kunci dalam pemerintahan Umayyah. Walaupun pemerintahan khalifah Sulaiman hanya berjalan kurang dari dua tahun, dia mencalonkan Umar sebagai pengggantinya sebelum kematiannya.
Dengan menaiki tahta Umayyah pada tahun 717, Umar menjadi salah satu penguas paling kuat ada zamannya. “Jika kekuasaan cenderung tidak jujur dan kekuasaan mutlak pasti tidak ujur”. Sebagaiman dinyatakan Lord Acton maka Umar bin Abdul Aziz pastilah pengecualian dalama hal ini.[4]
Umar sangat mengkhawatirkan tanggung jawabnya atas semua warga dala Negara Islam yang begitu luas. Sehingga pernah beliau mengumumkan ketika di masjid “Wahai manusia, beban kekhalifahan telah diserahkan kepadaku bukan atas pendapatku, tanpa aku menginginkannya, dan tanpa berkonsultasi dengan seluruh umat Islam. Aku mencopot kerah kesetiaan kepadaku yang dikalungkan dilehermu sekalian. Sekarang kalian semua bebas memilih siapa pun yang kalian inginkan sebagai khalifahmu.” Orang-orang di masjid pun menjawab, “ kami memilihmu sebagai khalifah kami  dan setuju dengan kekhalifahanmu.” Setelah diam sejenak, Umar kemudian menyatakan, “wahai manusia, tugasmu adalah menaati orang yang menaati Allah. Dan bukan kewajibanmu untuk menaati orang yang mendurhakai Allah. Selama aku menaati Allah, maka taatlah kepadaku. Begitu aku mendurhakai-Nya, engkau sekalian tidak berhutang ketaatan apapun kepadaku.
Dengan maklumat bersejarah ini, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memulihkan hak demokrasi rakyat untuk memilih dan menentukan pemimpin mereka. Ini sebuah presiden yang mula-mula ditetapkan oleh Rasulullah sendiri dalam pemerintahan Islam, dengan dukungan penuh masyarakat, Umar memusatkan semua perhatiannya pada urusan-urusan kerajaan Umayyah yang sanga luas.

d.      Pencapaian Umar bin Abduil Aziz selama memimpin Negara Islam
Khalifah yang kaya itu dengan menguasai tanah-tanah perkebuanan di Hijaz, Syam, Yaman dan Bahrain, yang mengahsilkan kekayaan 40.000 dinar tiap tahun, setelah menduduki jabatan barunya mengambalikan tanah-tanah yang dihibahkan kepadanya dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamanya serta menjual barang-barang mewahnya untuk diserahkan hasil penjualannya ke Baitul Mal. Disamping itu ia mengadakan perdamian antara Amawiyah dan Syi’ah serta Khawarij.
Khalifah yang adil itu berusaha memperbaiki segala tatanan yang ada di masa kekhallifahannya, seperti menaikkan gaji untuk para Gubernurnya, memeratakan kemakmuran dengan memberikan santunan para fakir dan miskin, dan memperbarui dinas pos. Ia juga menyamakan kedudukan orang-rang non arab yang menempati sebagai warga negara kelasa dua, dengan orang-orang arab. Ia mengurangi beban pajak dan menghentikan pembayaran jizyah bagi orang Islam baru.[5] Selama dua tahun pemerintahannya yang singkat, khalifah Umar bin Abdul Aziz berhasil memulihkan keadilan, kejujuran, dan kesetaraan di seluruh kerajaan Umayyah yang luas.
Khalifah Umar meninggal tahun 101 H. Kematiannya yang mengejutkan dan mengagetkan orang dalam dunia Islam. Semua orang, tua dan muda, pria dan wanita, Muslim dan Non-muslim, meneteskan air mata kepadnya. Para ulama berpengaruh seperti Hasan Al-Basri tidak hanya berdo’a untuknya, tetapi mengenangnya sebagai sebagai seorang pemimpin teadan.[6]

B.     Nelson Mandela
a.       Profil
Rolihlahla Mandela lahir di Umtata, Afrika Selatan, anak dari seorang kepala suku. Nama Rolihlahla kadang diartiakan “pembuat onar”, sementara nama nelson baru kemudian ditambahkan oleh guru sekolah dasarnya yang membayangkan suatu kemegahan kerajaan pada masa itu. Masa kecil Mandela cukup damai, ia banyak menghabiskan  waktu mengembala atau melakukan kesibukan pedesaan yang lain.[7]
Nelson Rolihlahla Mandela lahir pada 18 Juli 1918. Terlahir dari keluarga kerajaan Thembu dan bersuku Xhosa. Kakek buyut dari ayahnya, Ngubengcuka, adalah penguasa suku Thembu di Teritori Transkei yang saat ini menjadi provinsi Eastern Cape di Afrika Selatan. Salah satu putranya, Mandela, menjadi kakek Nelson dan sumber nama belakangnya. Karena Mandela adalah satu-satunya putra raja yang ibunya berasal dari klan Ixhiba, "Dinasti Tangan Kiri", keturunan cabang kadet keluarga kerajaannya bersifat morganatik, artinya tidak berhak mewarisi takhta tetapi diakui sebagai anggota dewan kerajaan yang jabatannya turun temurun. Karena itu, ayahnya, Gadla Henry Mphakanyiswa, merupakan kepala suku setempat dan anggota dewan kerajaan.

Sempat menyebut kehidupan awalnya didominasi "adat, ritual, dan tabu", Mandela tumbuh bersama dua saudarinya di kraal ibunya di desa Qunu, tempat Mandela bekerja sebagai gembala sapi dan menghabiskan waktunya bersama anak-anak lain. Kedua orang tuanya buta huruf, namun merupakan penganut Kristen yang taat.[8]

b.      Pendidikan
Ibunya mengirimkan Mandela ke sekolah Methodis setempat ketika menginjak usia 7 tahun. Dibaptis sebagai Methodis, Mandela diberi nama depan Inggris "Nelson" oleh gurunya.[
Untuk mendapatkan keterampilan supaya bisa menjadi anggota dewan penasihat untuk keluarga raja Thembu, Mandela mengenyam pendidikan menengah di Clarkebury Boarding Institute di Engcobo, institusi bergaya Barat yang merupakan sekolah Afrika berkulit hitam terbesar di Thembuland.
Setelah menyelesaikan Junior Certificate selama dua tahun, pada tahun 1937 ia pindah ke Healdtown, perguruan Methodis di Fort Beaufort yang juga dihadiri sebagian besar anggota keluarga raja Thembu, termasuk Justice. Kepala sekolah menekankan superioritas budaya dan pemerintahan Inggris, namun Mandela semakin tertarik dengan budaya Afrika pribumi dan berteman untuk pertama kalinya dengan orang non-Xhosa, seorang penutur bahasa Sotho, dan dipengaruhi salah satu guru favoritnya, seorang Xhosa yang mematahkan tabu dengan menikahi orang Sotho. Selain menghabiskan waktu luangnya dengan berlari dan tinju, pada tahun keduanya Mandela memutuskan menjadi prefek
Dengan bantuan Jongintaba, Mandela mengambil gelar Bachelor of Arts (BA) di University of Fort Hare, institusi kulit hitam elit di Alice, Eastern Cape dengan kurang lebih 150 mahasiswa. Di sana ia belajar bahasa Inggris, antropologi, politik, pemerintahan pribumi, dan hukum Belanda Romawi pada tahun pertamanya. Di akhir tahun pertamanya ia terlibat aksi boikot Students' Representative Council (SRC) terhadap kualitas makanan, sehingga ia diskors sementara dari universitas; ia meninggalkan kuliahnya tanpa gelar.

c.       Peran dalam Negara Afrika Selatan
Keterlibatannya dalam politik dimulai saat ia keluar sekolah College of Fort Hare. Dia mulai melibatkan diri dalam aksi protes menentang tatanan politik yang menempatkan orang kulit putih lebih tinggi dari orang kulit hitam. Keterlibatan inilah yang kemudian menentukan jalan panjang yang harus dia tempuh dalam memperjuangkan persamaan hak bagi mayoritas kulit hitam di Afrika Selatan. Selam bertahun-tahun kemudian ia menyaksikan bagaiman politik apartheid sangat tidak manusiawi. Hanya terkena berkulit hitam orang bisa kehilangn status sebagai manusia. Mandela meneguhkan hatinya untuk melawan semua ini. Ia rela meninggal kehidupan desa yang damai, bahkan kariernya sebagai pengecara, untuk memasuki masa depan yang penuh pengorbanan dan penderitaaan.
Dalam situasi ini mandela memilih jalan tanpa kekerasan sebagai strategi. Dia bergabung dengan Liga Kaum Muda, organisasi pemuda Kongres Nasional Afrika (ANC). Ia mengambil bagian dalam program perlawanan pasif untuk menentang aturan agar orang kulit hitam membawa pas jalan dan membuat mereka tetap dalam posisi budak terus menerus.
Karena terjadinya gejolak di pemerintahan yang mana dikatakan sebagai pengkhianat dan oposisi maka ANC termasuk di dialamnya. Maka pemerintah tidak menerima ANC yang termasuk Mandela adalah meraih reputasi pemimpin orang kulit hitam di ANC tersebut. Sehingga mandela dipenjara selama lima tahun di Robben Island.
Lebih dari dua dekade berada dalam penjara, Mandela menjadi simbol perlawanan trhadap apartheid. Dan para pemimpin dunia terus meminta pemerintah Afrika Selatan membebaskannya. Sebagai tanggapan atas tekanan dari dalam dan luar negeri. Presiden F.W. de Klerk pada 2 Februari 1990 mencabut pemberangsungan ANC dan mengumumkan pembebasan segera Mandela.

d.      Pencapaian Mandela memimpin Negara Afrika Selatan
Ketika pemilihan umum demokratis berlangsung, Mandela terpelih sebagai presiden Afrika Selatan. Sebagai presiden, pelbagai hal berat harus Mandela harus hadapi, namun yang terberat adalah menghilangkan rasa taku minoritas kulit putih. Namun mandela terbukti mampu mengatasi soal ini karean integritas moral dan fokus perjuangannya untuk menyatukan satu negara dengan dua warna kulit yang berbeda itu.mandela membuktikan kembali integritas kepemimpinannya dengan menolak untuk dipilih kembali pada pemilu 1999.[9]
Ketika kepemimpinannya sejak tahun 1994-1999 masyarakatnya sangat sejahtera, adil, mendapatkan anggaran kesejahteraan naik 13% tahun 1996/97, 13% tahun 1997/98, dan 7% tahun 1998/99. Pemerintah memperkenalkan kesetaraan bantuan untuk masyarakat, termasuk bantuan orang cacat, bantuan perawatan anak, serta dana pensiun lansia, yang sebelumnya diberi tingkatan-tingkatan untuk berbagai kelompok ras Afrika Selatan. Tahun 1994, layanan kesehatan gratis diberikan untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun dan ibu hamil, suatu peraturan yang cakupannya diperluas sampai semua pengguna layanan kesehatan sektor publik tingkat dasar pada tahun 1996. Pada pemilu 1999, ANC mengatakan bahwa karena kebijakan mereka, 3 juta orang terhubung ke telepon, 1,5 juta anak mengenyam pendidikan, 500 klinik diperbarui atau dibangun, 2 juta orang terhubung ke listrik, akses air bersih diperluas samapai 3 juta orang, dan 750.000 rumah dibangun dengan total penghuni nyaris 3 juta orang.

C.    Perbandingan Konsep Pemikiran Umar bin Abdul Aziz dengan Nelson Mandela
Hal yang menarik terhadap dua tokoh ini karena mereka memiliki kasus yang hampir sama, namun menyelesaikannya dengan metodologi yang berbeda. Adapun perbandingan mereka, ketika Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai pemimpin memiiki tantangan, yakni ingin merubah kebiasaaan pemimpin Umayyah pendahulunya yaitu kasar dan kejam terhadap rakyatnya, adanya pencacian terhadp khalifah Ali bin Abi Thalib ketika khutbah, kemudian kebiasaan yang bermegah-megah dalam mengelola harta kekayaan untuk kepentingan keluarga Umayyah saja. Dan kesungguhannya ingin merubah itu terlihat ketika dia mengundurkan diri sebagai Gubernur Madinah karena mendapati perbuatan Khalifah yang menyeleweng dengan menghukum mati orang yang tidak bersalah.

Dan ketika beliau dijadikan sebagai khalifah semua kebiasaaan buruk yang ada di kerajaan Umayyah dirubah menjadi kerajaan yang adil persis pada masa Khulafaur Rasydin sehingga dikatakan beliau termasuk khalifah yang ke lima. Meskipun beliau menjabat selama dua tahun tetapi keberhasilannya sangat memuncak, keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan telah di dapati oleh rakyatnya pada masa jabatan yang singkat itu. Sehingga rakyatnya pada masa itu sangat mencintai-nya dan sampai sekarang masyarakat muslim rindu menantikan kepemimpinan seperti Umar bin Abdul Aziz.
Dibalik konsep pemikiran dan kepemimpinan beliau adalah Al-Qura’an dan As-Sunnah. Pada masa pendidikan-nya ilmu yang pertama kali ia pelajari adalah Al-Qur’an sehingga beliau hafal, kemudian hadis, fiqih, tafsir. Dan dikenal pada masa itu beliau termasuk ahli dalam bidang-bidang yang dipelajarinya. Dengan demikian dari ilmu agama inilah yang menjadi konsep pemikiran yang ia terapkan sehingga ia dikenal menjadi khalifah bani Umayyah teladan sepanjang masa.
Sedangkan Nelson Mandela, kasus yang ingin di berantasnya adalah apartheid, yakni kebiasaan yang membedakan dalam melayani masyarakat yang berkulit hitam dan kulit putih dan yang mendapat pelayanan yang tidak adil adalah masyarakat yang berkulit hitam, termasuk diri-nya. Hal ini ia lawan melalui pergerakan melawan pemerintah sehingga ia di cap sebagai ”penghianat” ataupun sebagai gerakan oposisi. Sehingga beliau di penjara selama dua dekade. Atas semua pengorabanannya yang ia lakukan banyak perhatian dari dunia sehingga menuntut supaya dibebaskan. Dan ketika ia bebas dan pada pemilihan presiden ia terpilih sebagai presiden.
Sejak kepemimpiman yang diembannya masyarakat sangat sejahtera, pelayanan merata tidak ada pembedaan warna kulit, sehingga memang ia benar-benar berhasil merubah negara Afrika Selatan menjadi negara yang sejahtera.
Dibalik kepiawaiannya sebagai pemimpin konsep pemikirannya dalam memimpin adalah integritas dan keadililan yang merupakan efek dari pendidikan beliau ketika di methodist. Dan dikenal keluarga mereka adalah keluarga yang taat dari agama kristen. Dengan demikian agamalah konsep yang diambil beliau dalam menjalankan pemerintahan Afrika Selatan.
Dari perbandingan dari kedua tokoh ini kita dapat melihat perbedaan dan persamaan. Mereka sama-sama dari keluarga yang taat dan patuh terhadap ajaran agamanya masing-masing dan menjadikan itu sebagai pedoman diri dalam membuat kebijakan. Namun hal yang menarik kita lihat dari sini adalah Umar sebagai orang yang cendikiawan. Beliau memulai perubahan tersebut dengan ilmu pengetahuan sehingga beliau dikenal dan dihormati di kerajaan Bani Umayyah sehingga beliau melewatinya tanpa ada pertumpahan darah maupun kekerasan.
Sedangkan Mandela melewati perubahan itu dengan konflik yang berkepanjangan sehingga titik akhir penyelesainnya beliau di penjaradengan menunjukkan kebenaran itu muncul dan dinilai dunia bahwa Mandela memang benar dan harus di apresiasi dan dilaksanakan atas tuntutannya agar keadilan harus diterapkan demi tercapainya masyarakat yang sejahtera.





DAFTAR PUSTAKA

Buku
Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997
Khoerul Amru Harahap, Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2013
Masturi Irham, dkk., 60 Biografi Ulama Salaf, Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar, 2010
Muhammad Mojlum Khan, 100 Muslim Paling berpengaruhsepanjang sejarah, Jakarta Selatan: Noura Books Mizan Publika, 2012
Susanto, 100 Tokoh Abad ke- 20 Paling Berpengaruh, Bandung : Nuansa, 2008

Internet
http://id.wikipedia.org/wiki/Nelson_Mandela. Di Download pada pukul : 20:12. Tanggal 28/11/2014



[1] Khoerul Amru Harahap, Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2013, h. 398
[2] Masturi Irham, dkk., 60 Biografi Ulama Salaf, Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar, 2010, h. 78
[3] Muhammad Mojlum Khan, 100 Muslim Paling berpengaruhsepanjang sejarah, Jakarta Selatan: Noura Books Mizan Publika, 2012, h. 177
[4] Muhammad Mojlum Khan, Ibid, h. 180
[5] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997, h. 79
[6] Muhammad Mojlum Khan, Ibid, h. 183

[7] Ready Susanto, 100 Tokoh Abad ke- 20 Paling Berpengaruh, Bandung : Nuansa, 2008, h.217
[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Nelson_Mandela. Di Download pada pukul : 20:12. Tanggal 28/11/2014


[9] Ready Susanto, Ibid, h. 219