Selasa, 01 Desember 2015

SKRIPSI... !, ABANG DATANG





Bulan ini saya dikejutkan oleh skripsi. Tanpa diundang tiba-tiba ia datang bagaikan petir. Jantungku sampai sekarang masih terasa berdenyut kalau ingat skripsi. Entah kenapa aku merasa belum siap 100 persen. Mungkin kawan-kawan lain juga merasakan apa yang saya rasakan. Seolah-olah baru semalam masuk kuliah memakai baju hitam putih di prospek senioran. Rupanya waktu sangat cepat berputar memang inilah yang sudah terjadi. Fakta, bukan mimpi skripsi telah datang. Lantas, apa yang harus kita lakukan terhadap sosok kumpulan kertas yang sedikit rumit, menakutkan, dan terkadang membuat mahasiswa stress ini?
Ayo ikuti langkah ku...
Skripsi....Kenalan Dong!
Skripsi merupakan suatu karya ilmiah sesorang yang disusun secara sistematis guna dapat memberikan pemahaman dan pelajaran terhadap orang lain. Skripsi ini biasanya tugas akhir seorang mahasiswa yang masih kuliah strata satu atau sarjana yang wajib diselesaikan. Kalau tidak selesai maka dampak negatifnya bagi mahasiswa tersebut harus sabar dengan lapang dada rela ketinggalan wisuda dengan teman-teman satu angkatannya. Jangan heran, karena takut ketinggalan banyak mahasiswa yang mati-matian untuk itu. Ada yang jungkir balik nggak tertidur hanya memikirkan tiga baris judul. Ada yang masih penasaran terhadap dosen pembimbingnya apakah orang baik atau killer. Dan ada mahasiswa yang makin alimnya bukan, setiap malam dia Shalat Istikhara memilih apakah skripsinya berbentuk PTK, Kuantitatif, atau Kualitatif. Namun yang anehnya ada yang santai saja, yang menganggap “alah, gampangnya itu”. Ini adalah gambaran respon sebagian mahasiswa tentang menghadapi skripsi.
Sebenarnya pembuatan skripsi adalah tugas yang sering kita lakukan. Kenapa ? karana selama kita kuliah dari semester I-VII kita telah dikenalkan bagaimana bentuk dan cara membuatnya. Yaitu dengan pembuatan makalah. Memang berbeda tetapi hanya sedikit. Dalam membuat makalah kita telah diajari bagaimana membuat bab I(Pendahuluan) dan bab II (Teori), tinggal bab III ( Metode) yang beda. Dan dari sini kita juga telah belajar bagaimana cara menyusunnya dengan mandiri, mencari referensi, serta menjaga keorisinilannya dari aroma plagiasi. Dan ini kita hanya mereview kembali kebiasaan kita dalam menulis makalah dengan sesempurna mungkin yang dilengkapi penelitian lapangan atau library. Sehingga tidak ada alasan lagi, kita mengatakan “nggak tahu bagaimana menulis skripsi”.
Skripsi....Tunangan Yuk !
Sampai sekarang kita masih bingung mau milih penelitian yang bagaimana. Mau ngambil  PTK sudah banyak mahasiswa yang ngambil, kalau yang kuantitatif tidak ahli matematika, sedangkan kualitatif harus banyak menganalisis buku. Semua serba sulit dan tertolak apabila sisi anatagonis dalam diri kita yang kita ikuti, sehingga sampai sekarang masih asyk garuk-garuk kepala mau pakai yang mana. Hentikan garukanmu dan katakan Semua mudah kalau kita bilang mudah. Cari dimananya yang tertarik bagi kita. Bayangkan... PTK merupakan gadis yang sangat manis, dengan gayanya yang dikelas, melihat siswa-siswa apakah ada yang perlu diperbaiki, dan sarankan memakai apa memperbaikinya. Kuantitatif adalah wanita yang sholeha, yang selalu menutup diri dengan angka-angka, dengan memastikan apakah variabel x dan y saling behubungan atau berpengaruh, buktikan dengan validitas dan reliabilitas. Kualitatif adalah wanita pendiam, pemalu, dan perasa. Datangi dia dengan kata-kata yang manis, tersusun dan argumentatif dengan mendeskripsikan secara jelas sesuai analisis yang kita lakukan sehingga memunculkan suatu teori baru. Dengan begitu ada semangat kita untuk penjajakan selanjutnya menikahinya.
Skripsi...Abang Lamar Kau dengan
Setelah kita kenal betul dengan tiga wanita tadi. Tentukan pilihan penelitianmu dan tentukan judulmu. Dalam menentukan judul jangan terlalu idealis dengan mencari judul yang paling sulit. Nanti kita sendiri yang kewalahan dalam mencari referensi sampai belahan dunia ketiga pun kita tak dapat.  Juga hati-hati sebaliknya jangan mengejar target cepat selesai. Nanti skripsimu tidak memiiki kualitas, jangankan orang lain tertarik membacanya. Anda sendiri saja ketika membacanya tertawa, karena terkesan asal-asalan. Jadi, Semua keputusan ada ditangan kita. setelah tekad kita sudah bulat barulah kita do'a dan tawakkal kepada Allah agar diberkahi sampai selesai. 
Tunggu apalagi skripsi udah siap ke pelaminan. Tinggal kitanya belum melamarnya. Dia hanya butuh mahar tiga judul saja. Masa itupun nggak sanggup. Jangan-jangn kita .....??????

3 komentar: