Rabu, 09 Desember 2015

Renungan Seorang Hamba atas Hidayah Islam





Saya tak menyangka sekarang ada di antara orang-orang shaleh. Yang selalu mengingatkanku apabila melakukan kesalahan. Dan yang selalu memberikan motivasi beribadah tatkala ibadahku telah menurun.

Syukurku pada Allah dengan hidayah yang ia berikan kepadaku. Aku tak bayangkan seperti apa aku ini apabila dulu aku mengikutkan hawa nafsuku. Berjalan tanpa arah terbang bagaikan kapas yang dihembus angin tanpa mengetahui sampai dimana ia terhenti. Wa Allahu A’alam  hidayah ini tetap ia berikan kepadaku sampai akhir hayatku. Namun disetiap aku berdo’a agar hidayah ini jangan sempat ia cabut. Karena kalau sempat ia cabut sedetikpun sungguh aku termasuk orang-orang yang sangat merugi. Karena dengan hidayahnya lah orang-orang ia muliakan.

Aku teringat betapa kejam dan kerasnya Umar bin Khattab sebelum Islam. Ia termasuk orang terdepan dalam memusuhi Agama Islam. Bahkan Ia berniat ingin membunuh Sang Kekasih Allah Nabi Muhammad SAW. Namun itu semua dapat Allah balikkan dengan begitu mudah. Dengan perantara adiknya Ia mendapat hidayah Allah SWT. Masuk Islam. Dan setelah keislamannya beliau dimuliakan Allah SWT. Menjadi sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Dan menjadi salah satu khalifah ar-Rasydin.

Dan terkadang aku merasa kesal karena mungkin secuilnya pengetahuanku dibanding Allah SWT. Karena aku tak menyangka sebab paman yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW. Abu Thalib bin Abdul Mutholib tidak mendapat hidayah Allah SWT. Padahal pamannya lah yang membela habis-habisan perjuangan dakwah Islam dengan mengorbankan hartanya bahkan bersumpah terhadap kaum Quraiys nyawanya ia pertaruhkan demi membela keponakannya tercinta yakni Nabi Muhammad SAW. Namun itu semua belum bisa mengambil hidayah dari Allah SWT. Karena sesungguhnya hak Allah lah hidayah itu bukan hak Nabi Muhammad SAW.

Pernahkah kita sejenak berfikir, alangkah mahalnya hidayah Allah SWT itu. Imam para nabi saja pun yang meminta kepada Allah SWT agar pamannya mendapatkan hidayah tidak terkabulkan apalagi seperti kita ini yang berlumur dosa, banyak maksiat, suka menggunjing antar sesama, durhaka terhap orang tua. Tiba-tiba kita sok dengan petentengan memarah-marahi Allah SWT. Mengatakan hidup ini tak adil dan segala macam lah. Ya Allah ....Ampuni dosa hamba ya Allah. Hidayah Islam yang telah Engkau berikan kepadaku sudah cukup bagiku dari pada kuliah diluar negeri, kuliah di mesir Al-Azhar, dan Dunia seisinya. Ya Allah ampunilah dosaku atas buruk sangka hamba selama ini. Ampuni hamba ya Allah.  


Ya Allah “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat" (QS. Al-Fatihah : 6-7)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar