Berita yang
lagi gempar-gemparnya belakangan ini adalah tragedi Paris. Seluruh dunia
berduka. Bahkan media sosial terbesar di dunia facebook membuat profil otomatis
di beri sejenis background di dalamnya terdapat foto bendera Francis. Sebagai
tanda kita ikut belasungkawa atas 153 korban yang telah meninggal.
Namun disamping
itu, ada yang kurang menyenangkan bagi umat yang beragama Islam. Karena setelah
kejadian itu banyak timbul yang menghantui umat Islam. Apalagi media telah
mengklaim pelakunya adalah ISIS. Membuat mata dunia melihat umat Islam
seolah-olah ikut andil atas perbuatan itu. Padahal umat Islam jauh lebih tidak
senang atas kejadian itu, dan sangat terpukul melihat tindak kemanusiaan yang
kejam dan bejat itu. Perbuatan ini dicap sebagai teroris. Dan yang selalu
menjadi perdebatan kita, mengapa langsung muncul kata-kata teroris. Sebenarnya
apa yang dimaksud teroris ini?. Dan apa kriterianya sehingga disebut teroris.?
Dan mengapa selalu umat Islam yang selalu disebut teroris?
Inilah yang
akan kita jawab satu per satu.
Teroris berasal
dari kata teror yang berarti tindakan kekerasan. Dengan tambahan akhiran“is”
diartikan sebagai pelaku kekerasan. Jadi, teroris adalah orang yang melakukan
kekerasan. Sedangkan terorisme adalah faham yang melakukan aksi kekerasan itu
sendiri. Di dalam kata teroris ini adalah kekerasan yang berbeda dengan bentuk
kekerasan lain, seperti intimidasi atau sabotase. Maksud
kekerasan dalam kata teroris disini adalah kekerasan yang dilakukan terhapad
orang lain tanpa ada penyebab atau kesalahan korban. Kekerasan teroris
cenderung berbentuk acak, seperti pembantaian, pemboman, dan bentuk kekerasan
lain yang bersifat acak tidak memilih sasaran yang bersalah atau tidak.
Sedangkan
kriteria yang dijadikan standard orang yang melakukan teroris ini sampai
sekarang belum didapati seperti apa. Sejauh ini yang kita lihat di media
ataupun berita kriteria nya adalah dilihat dari sisi yang melakukan tindak
teroris itu. Kalau yang melakuakan itu umat Islam maka tanpa segan-segan mereka
langsung memuat berita dengan Headline perbuatan itu adalah Teroris. Tetapi kalau
di luar umat Islam yang melakukannya media sangat hati-hati mengatakan itu
adalah teroris.
Sebenarnya banyak
yang juga sudah tahu, saya pernah diskusi dengan seseorang yang beragama Budha,
orang china. Saat itu ketika paska kejadian tragedi Paris berita yang
disampaikan salah satu koran memuat ISIS adalah terorisnya. Saya pikir dia akan
menyalahkan umat Islam. Ternyata dia menyalahkan yang membuat media. Dan dia
dengan bangga mengatakan Umat Islam adalah umat yang damai bukan teroris.
Sudah menjadi
kebosanan bagi pembaca berita yang menyaksikan ketidakotentikan berita yang dimuat.
Selalu ada yang pincang. Kalau dalam ilmu pendidikan ada yang disebut Dikotomi
Ilmu. Disini penulis mengatakan dalam berita ada Dikotomi Informasi.
Karena informasi cenderung menyudutkan umat Islam. Karena sudah jelas faktanya.
Sampai sekarang kita lihat mana ada media yang mengatakan menginformasikan atau
memuat berita Israel adalah teroris, radikal, membantai, membom, dan membunuh
manusia-manusia yang tidak berdosa. Ini adalah realita umat Islam, bahwa
sasaran kejelekan berita memang diperuntukkan hanya untuk umat Islam. Sedangkan
berita-berita yang baik adalah milik mereka semata.
Jadi, Apa
yang harus dilakukan Umat Islam.
Solusinya ada ditangan kita sendiri. Kita harus
membuat gerakan baru. Membuat media seperti mereka. Dengan memiliki media
sendiri. Umat Islam bisa membalas berita-berita yang tidak benar, yang menyudutkan
umat Islam itu tanpa bukti. Beritakan informasi yang sebenarnya. Mungkin ingin
memiliki media seperti mereka terlalu jauh bagi kita masyarakat kecil seperi
ini. Kalau kita tidak bisa membangun media yang besar seperti mereka. Setidaknya
kita bisa melawannya dengan tulisan kita di buku, facebook, blog, dan lain
sebagainya. Sampaikanlah: Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang
batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (QS. Al-Isra :
81)

Utk menangkal stigma negatif yg merusak citra islam, ummat ini harus lebih produktif dan berakhlak mulia. Tidak ada agama yg mengajarkan kekerasan. Begitu juga tidak sda agama dalam kekerasan.
BalasHapusGood ustsdz...
Utk menangkal stigma negatif yg merusak citra islam, ummat ini harus lebih produktif dan berakhlak mulia. Tidak ada agama yg mengajarkan kekerasan. Begitu juga tidak sda agama dalam kekerasan.
BalasHapusGood ustsdz...
itulah tugas kita sebagai umat Islam. Jangan hanya menerima begitu saja tanpa memikirkan, menelaah kebenaran.
BalasHapus