Jumat, 04 Desember 2015

DIKOTOMI INFORMASI: Who is a terrorist?





Berita yang lagi gempar-gemparnya belakangan ini adalah tragedi Paris. Seluruh dunia berduka. Bahkan media sosial terbesar di dunia facebook membuat profil otomatis di beri sejenis background di dalamnya terdapat foto bendera Francis. Sebagai tanda kita ikut belasungkawa atas 153 korban yang telah meninggal.
Namun disamping itu, ada yang kurang menyenangkan bagi umat yang beragama Islam. Karena setelah kejadian itu banyak timbul yang menghantui umat Islam. Apalagi media telah mengklaim pelakunya adalah ISIS. Membuat mata dunia melihat umat Islam seolah-olah ikut andil atas perbuatan itu. Padahal umat Islam jauh lebih tidak senang atas kejadian itu, dan sangat terpukul melihat tindak kemanusiaan yang kejam dan bejat itu. Perbuatan ini dicap sebagai teroris. Dan yang selalu menjadi perdebatan kita, mengapa langsung muncul kata-kata teroris. Sebenarnya apa yang dimaksud teroris ini?. Dan apa kriterianya sehingga disebut teroris.? Dan mengapa selalu umat Islam yang selalu disebut teroris?
Inilah yang akan kita jawab satu per satu.
Teroris berasal dari kata teror yang berarti tindakan kekerasan. Dengan tambahan akhiran“is” diartikan sebagai pelaku kekerasan. Jadi, teroris adalah orang yang melakukan kekerasan. Sedangkan terorisme adalah faham yang melakukan aksi kekerasan itu sendiri. Di dalam kata teroris ini adalah kekerasan yang berbeda dengan bentuk kekerasan lain, seperti intimidasi atau sabotase. Maksud kekerasan dalam kata teroris disini adalah kekerasan yang dilakukan terhapad orang lain tanpa ada penyebab atau kesalahan korban. Kekerasan teroris cenderung berbentuk acak, seperti pembantaian, pemboman, dan bentuk kekerasan lain yang bersifat acak tidak memilih sasaran yang bersalah atau tidak.
Sedangkan kriteria yang dijadikan standard orang yang melakukan teroris ini sampai sekarang belum didapati seperti apa. Sejauh ini yang kita lihat di media ataupun berita kriteria nya adalah dilihat dari sisi yang melakukan tindak teroris itu. Kalau yang melakuakan itu umat Islam maka tanpa segan-segan mereka langsung memuat berita dengan Headline perbuatan itu adalah Teroris. Tetapi kalau di luar umat Islam yang melakukannya media sangat hati-hati mengatakan itu adalah teroris.
Sebenarnya banyak yang juga sudah tahu, saya pernah diskusi dengan seseorang yang beragama Budha, orang china. Saat itu ketika paska kejadian tragedi Paris berita yang disampaikan salah satu koran memuat ISIS adalah terorisnya. Saya pikir dia akan menyalahkan umat Islam. Ternyata dia menyalahkan yang membuat media. Dan dia dengan bangga mengatakan Umat Islam adalah umat yang damai bukan teroris.
Sudah menjadi kebosanan bagi pembaca berita yang menyaksikan ketidakotentikan berita yang dimuat. Selalu ada yang pincang. Kalau dalam ilmu pendidikan ada yang disebut Dikotomi Ilmu. Disini penulis mengatakan dalam berita ada Dikotomi Informasi. Karena informasi cenderung menyudutkan umat Islam. Karena sudah jelas faktanya. Sampai sekarang kita lihat mana ada media yang mengatakan menginformasikan atau memuat berita Israel adalah teroris, radikal, membantai, membom, dan membunuh manusia-manusia yang tidak berdosa. Ini adalah realita umat Islam, bahwa sasaran kejelekan berita memang diperuntukkan hanya untuk umat Islam. Sedangkan berita-berita yang baik adalah milik mereka semata.
Jadi, Apa yang harus dilakukan Umat Islam.
        Solusinya ada ditangan kita sendiri. Kita harus membuat gerakan baru. Membuat media seperti mereka. Dengan memiliki media sendiri. Umat Islam bisa membalas berita-berita yang tidak benar, yang menyudutkan umat Islam itu tanpa bukti. Beritakan informasi yang sebenarnya. Mungkin ingin memiliki media seperti mereka terlalu jauh bagi kita masyarakat kecil seperi ini. Kalau kita tidak bisa membangun media yang besar seperti mereka. Setidaknya kita bisa melawannya dengan tulisan kita di buku, facebook, blog, dan lain sebagainya. Sampaikanlah: Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (QS. Al-Isra : 81)

3 komentar:

  1. Utk menangkal stigma negatif yg merusak citra islam, ummat ini harus lebih produktif dan berakhlak mulia. Tidak ada agama yg mengajarkan kekerasan. Begitu juga tidak sda agama dalam kekerasan.
    Good ustsdz...

    BalasHapus
  2. Utk menangkal stigma negatif yg merusak citra islam, ummat ini harus lebih produktif dan berakhlak mulia. Tidak ada agama yg mengajarkan kekerasan. Begitu juga tidak sda agama dalam kekerasan.
    Good ustsdz...

    BalasHapus
  3. itulah tugas kita sebagai umat Islam. Jangan hanya menerima begitu saja tanpa memikirkan, menelaah kebenaran.

    BalasHapus