Bulan ini saya
dikejutkan oleh skripsi. Tanpa diundang tiba-tiba ia datang bagaikan petir. Jantungku
sampai sekarang masih terasa berdenyut kalau ingat skripsi. Entah kenapa aku
merasa belum siap 100 persen. Mungkin kawan-kawan lain juga merasakan apa yang
saya rasakan. Seolah-olah baru semalam masuk kuliah memakai baju hitam putih di
prospek senioran. Rupanya waktu sangat cepat berputar memang inilah yang sudah
terjadi. Fakta, bukan mimpi skripsi telah datang. Lantas, apa yang harus kita
lakukan terhadap sosok kumpulan kertas yang sedikit rumit, menakutkan, dan
terkadang membuat mahasiswa stress ini?
Ayo ikuti
langkah ku...
Skripsi....Kenalan
Dong!
Skripsi merupakan
suatu karya ilmiah sesorang yang disusun secara sistematis guna dapat
memberikan pemahaman dan pelajaran terhadap orang lain. Skripsi ini biasanya tugas
akhir seorang mahasiswa yang masih kuliah strata satu atau sarjana yang wajib
diselesaikan. Kalau tidak selesai maka dampak negatifnya bagi mahasiswa
tersebut harus sabar dengan lapang dada rela ketinggalan wisuda dengan
teman-teman satu angkatannya. Jangan heran, karena takut ketinggalan banyak
mahasiswa yang mati-matian untuk itu. Ada yang jungkir balik nggak tertidur
hanya memikirkan tiga baris judul. Ada yang masih penasaran terhadap dosen
pembimbingnya apakah orang baik atau killer. Dan ada mahasiswa yang makin
alimnya bukan, setiap malam dia Shalat Istikhara memilih apakah skripsinya berbentuk PTK,
Kuantitatif, atau Kualitatif. Namun yang anehnya ada yang santai saja, yang
menganggap “alah, gampangnya itu”. Ini adalah gambaran respon sebagian mahasiswa
tentang menghadapi skripsi.
Sebenarnya pembuatan
skripsi adalah tugas yang sering kita lakukan. Kenapa ? karana selama kita
kuliah dari semester I-VII kita telah dikenalkan bagaimana bentuk dan cara
membuatnya. Yaitu dengan pembuatan makalah. Memang berbeda tetapi hanya
sedikit. Dalam membuat makalah kita telah diajari bagaimana membuat bab I(Pendahuluan)
dan bab II (Teori), tinggal bab III ( Metode) yang beda. Dan dari sini kita
juga telah belajar bagaimana cara menyusunnya dengan mandiri, mencari
referensi, serta menjaga keorisinilannya dari aroma plagiasi. Dan ini kita
hanya mereview kembali kebiasaan kita dalam menulis makalah dengan sesempurna
mungkin yang dilengkapi penelitian lapangan atau library. Sehingga tidak ada
alasan lagi, kita mengatakan “nggak tahu bagaimana menulis skripsi”.
Skripsi....Tunangan
Yuk !
Sampai sekarang
kita masih bingung mau milih penelitian yang bagaimana. Mau ngambil PTK sudah banyak mahasiswa yang ngambil, kalau
yang kuantitatif tidak ahli matematika, sedangkan kualitatif harus banyak
menganalisis buku. Semua serba sulit dan tertolak apabila sisi anatagonis dalam
diri kita yang kita ikuti, sehingga sampai sekarang masih asyk garuk-garuk
kepala mau pakai yang mana. Hentikan garukanmu dan katakan Semua mudah kalau
kita bilang mudah. Cari dimananya yang tertarik bagi kita. Bayangkan... PTK
merupakan gadis yang sangat manis, dengan gayanya yang dikelas, melihat siswa-siswa
apakah ada yang perlu diperbaiki, dan sarankan memakai apa memperbaikinya.
Kuantitatif adalah wanita yang sholeha, yang selalu menutup diri dengan
angka-angka, dengan memastikan apakah variabel x dan y saling behubungan atau
berpengaruh, buktikan dengan validitas dan reliabilitas. Kualitatif adalah
wanita pendiam, pemalu, dan perasa. Datangi dia dengan kata-kata yang manis,
tersusun dan argumentatif dengan mendeskripsikan secara jelas sesuai analisis
yang kita lakukan sehingga memunculkan suatu teori baru. Dengan begitu ada
semangat kita untuk penjajakan selanjutnya menikahinya.
Skripsi...Abang
Lamar Kau dengan
Setelah kita
kenal betul dengan tiga wanita tadi. Tentukan pilihan penelitianmu dan tentukan
judulmu. Dalam menentukan judul jangan terlalu idealis dengan mencari judul
yang paling sulit. Nanti kita sendiri yang kewalahan dalam mencari referensi
sampai belahan dunia ketiga pun kita tak dapat. Juga hati-hati sebaliknya jangan mengejar
target cepat selesai. Nanti skripsimu tidak memiiki kualitas, jangankan orang
lain tertarik membacanya. Anda sendiri saja ketika membacanya tertawa, karena terkesan
asal-asalan. Jadi, Semua keputusan ada ditangan kita. setelah tekad kita sudah bulat barulah kita do'a dan tawakkal kepada Allah agar diberkahi sampai selesai.
Tunggu apalagi skripsi udah siap ke pelaminan. Tinggal kitanya
belum melamarnya. Dia hanya butuh mahar tiga judul saja. Masa itupun nggak
sanggup. Jangan-jangn kita .....??????

Mantap ustadz... up to date
BalasHapusMantap bg... (Y)
BalasHapusSemangat, Ingat Skripsimu..
BalasHapus