Statement di atas
adalah kata-kata yang saya dapatkan dari film “Lenyap dalam Sunyi” yang
digarap oleh Fisabilillah Prodution. Yang mana di dalam film itu dikisahkan seorang
mas Prana sangat mencintai seorang gadis yang sangat anggun, sehingga ia
menjuluki gadis itu layaknya seorang bidadari tak bersayap, namun berhijab.
Saya tidak cerita panjang lebar tentang film itu. Karena kalau
ingin tahu lebih mendalam tunggu saja screening & sharing yang ke-2 dari
fisabilillah production, menurutku film itu layak untuk ditonton, menginspirasi
dan sebagai media dakwah Islam zaman sekarang. Baik, langsung saja yang ingin
saya sampaikan di dalam tulisan ini adalah seperti apakah yang diinginkan kaum
adam terhadap kaum hawa di akhir zaman ini. Mengapa topik ini yang dibahas? Karena
itulah isu-isu yang terhangat dikalangan sarjana muda yang sering mereka bahas.
“Bagaimana yang antum inginkan calon istri, apakah seorang akhwat
atau perempuan biasa?” tanya seorang
teman kepada saya. Langsung saja saya jawab “seorang akhwat”. Dia pun
bertanya kembali ”mengapa?...”. Dengan suara mendatar saya jawab “karena
saya yakin, kalau seorang akhwat bukan hanya kita yang memeperbaiki dia, malah
dia yang memperbaiki agama kita”. Jawaban ini saya kira adalah jawaban spontan
yang saya tafsirkan dengan bahasa saya sendiri dari hadis Rasulullah Saw. mengenai
memilih pasangan. Yang mana Rasulullah Saw. menyarankan untuk memilih seseorang
karena agamanya.
Seorang wanita dinikahi
karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena
agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.
Namun yang menjadi perdebatan panjang adalah seorang akhwat.
Apakah seorang akhwat itu sudah dijamin agamanya?. Kalau saya menjawab
memang tidak. Namun saya juga tidak mengatakan orang biasa itu tidak beragama,
bisa jadi mereka lebih beragama dibanding seorang akhwat. Tidak menutup
kemungkinan seorang akhwat itu bisa melekat pada siapapun, kalau
diartikan seorang akhwat adalah orang yang beragama. Karena selama ini yang
diketahui seorang akhwat itu adalah orang yang berada di dalam
oraganisasi Islam. Padahal penafsiran saya sendiri seorang akhwat itu
adalah setiap orang yang dapat menjaga dirinya dengan syari’at Allah Swt., jadi
siapapun yang bisa menjaga kesuciannya dengan syari’at Allah Swt. berarti dia
seorang akhwat, walaupun dia bukan masuk di dalam organisasi Islam yang
mengatasnamakan keakhwatan.
Kembali ke topik pembahasan dalam memilih pasangan. Pernah saya
cerita dengan seorang ikhwan (dalam artian seorang yang beragama seperti
penafsiran akhwat yang di atas), dia mengatakan beliau pernah dita’artufkan dengan
seorang akhwat. Seorang akhwat yang luar biasa, selain berhijab
ia juga memakai cadar. Namun saya kurang senang dari kesimpulan cerita itu,
sebab ia tidak jadi memilih yang bercadar itu, yang ia pilih akhwat yang
lain yang menurutnya lebih cantik, itupun tanpa konfirmasi sama yang pertama
tadi. Jadi, saya menanyakan mengapa tidak jadi sama akhwat yang pertama
tadi? Dan mengapa memilih yang kedua?. Dengan santai dia menjawab, saya tidak
mau menyakiti dia dan kedua orang tuanya atas keputusan yang saya pilih. Kemudian
jawaban yang kedua ia menjawab karena istri adalah surga dunia.
Memang jawaban dia betul, tapi belum tentu benar. Saya tidak ingin
meluruskannya pada waktu itu, karena saya takut dia tersinggung. Saya husnuzhon
saja mungkin dia belum tahu bagaimana peraturan melamar. Kalau kita ambil
mafhum hadis ini “Seorang laki-laki tidak boleh melamar wanita yang telah
dilamar saudaranya, hingga saudaranya itu meninggalkannya atau mengizinkannya
(untuk melamarnya)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5142]”. Berarti
sampai sekarang ikhwan tadi masih ada ikatan lamar sampai sekarang walaupun ia
telah menikah, karena dia belum mengkonfirmasi meninggalkannya atau memberi
izin untuk dilamar orang lain, karena status mereka sewaktu ta’arufan sama-sama
suka. Saya sangat bingung melihat kasus ini, mungkin ada yang memberi masukan
nanti.
Memang agak sulit berbicara
jodoh terlalu panjang. Sebab mengenai hal ini adalah perkara yang ghaib. Secerdas
apapun kita menyusun strategi untuk mendapatkan seorang akhwat, ada yang
lebih cerdas dan yang lebih maha mengetahui siapa yang pantas untuk kita. Jadi,
sekarang tugas kita cuman satu, kita harus ridho menerima taqdir Allah Swt. Ridho bukan
berarti kita menunggu dan tidak berbuat apa-apa. Ridho adalah kita rela
menerima siapapun yang kita pilih ataupun siapapun yang dijodohkan kepada kita.
Karena semua yang terjadi dalam hidup ini tidaklah sia-sia. Kalau mendapat perempuan
yang beriman, sholehah, dan ‘alim kita harus bersyukur seperti Nabi kita
Muhammad Saw. Kalau mendapat perempuan yang kurang baik, cerewet, dan tidak
patuh terhadap suami kita harus bersabar layaknya seperti nabi Nuh a.s.
Ingatlah kawan!. Umur sudah bertambah tapi belum tentu semua orang dewasa.
Dewasa itu adalah pilihan. Yaitu memilih kehidupan seperti biasa-biasa saja
atau mau berubah lebih mempersiapkan diri menjadi orang yang beriman dan
bertaqwa. Agar kelak yang kita dapatkan insya Allah juga orang yang beriman dan yang
taat juga. Amin
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki
yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak
baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk
wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

masyaAllah
BalasHapusMasyaAllah... saya jadi terharu tilawah jadinya. Syukron.
BalasHapus