Minggu, 01 Mei 2016

Bidadari Tak Bersayap, Namun Berhijab



   Statement di atas adalah kata-kata yang saya dapatkan dari film “Lenyap dalam Sunyi” yang digarap oleh Fisabilillah Prodution. Yang mana di dalam film itu dikisahkan seorang mas Prana sangat mencintai seorang gadis yang sangat anggun, sehingga ia menjuluki gadis itu layaknya seorang bidadari tak bersayap, namun berhijab.
Saya tidak cerita panjang lebar tentang film itu. Karena kalau ingin tahu lebih mendalam tunggu saja screening & sharing yang ke-2 dari fisabilillah production, menurutku film itu layak untuk ditonton, menginspirasi dan sebagai media dakwah Islam zaman sekarang. Baik, langsung saja yang ingin saya sampaikan di dalam tulisan ini adalah seperti apakah yang diinginkan kaum adam terhadap kaum hawa di akhir zaman ini. Mengapa topik ini yang dibahas? Karena itulah isu-isu yang terhangat dikalangan sarjana muda yang sering mereka bahas.
“Bagaimana yang antum inginkan calon istri, apakah seorang akhwat atau perempuan biasa?” tanya seorang teman kepada saya. Langsung saja saya jawab “seorang akhwat”. Dia pun bertanya kembali ”mengapa?...”. Dengan suara mendatar saya jawab “karena saya yakin, kalau seorang akhwat bukan hanya kita yang memeperbaiki dia, malah dia yang memperbaiki agama kita”. Jawaban ini saya kira adalah jawaban spontan yang saya tafsirkan dengan bahasa saya sendiri dari hadis Rasulullah Saw. mengenai memilih pasangan. Yang mana Rasulullah Saw. menyarankan untuk memilih seseorang karena agamanya.
Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.
  
Namun yang menjadi perdebatan panjang adalah seorang akhwat. Apakah seorang akhwat itu sudah dijamin agamanya?. Kalau saya menjawab memang tidak. Namun saya juga tidak mengatakan orang biasa itu tidak beragama, bisa jadi mereka lebih beragama dibanding seorang akhwat. Tidak menutup kemungkinan seorang akhwat itu bisa melekat pada siapapun, kalau diartikan seorang akhwat adalah orang yang beragama. Karena selama ini yang diketahui seorang akhwat itu adalah orang yang berada di dalam oraganisasi Islam. Padahal penafsiran saya sendiri seorang akhwat itu adalah setiap orang yang dapat menjaga dirinya dengan syari’at Allah Swt., jadi siapapun yang bisa menjaga kesuciannya dengan syari’at Allah Swt. berarti dia seorang akhwat, walaupun dia bukan masuk di dalam organisasi Islam yang mengatasnamakan keakhwatan.
Kembali ke topik pembahasan dalam memilih pasangan. Pernah saya cerita dengan seorang ikhwan (dalam artian seorang yang beragama seperti penafsiran akhwat yang di atas), dia  mengatakan beliau pernah dita’artufkan dengan seorang akhwat. Seorang akhwat yang luar biasa, selain berhijab ia juga memakai cadar. Namun saya kurang senang dari kesimpulan cerita itu, sebab ia tidak jadi memilih yang bercadar itu, yang ia pilih akhwat yang lain yang menurutnya lebih cantik, itupun tanpa konfirmasi sama yang pertama tadi. Jadi, saya menanyakan mengapa tidak jadi sama akhwat yang pertama tadi? Dan mengapa memilih yang kedua?. Dengan santai dia menjawab, saya tidak mau menyakiti dia dan kedua orang tuanya atas keputusan yang saya pilih. Kemudian jawaban yang kedua ia menjawab karena istri adalah surga dunia.
Memang jawaban dia betul, tapi belum tentu benar. Saya tidak ingin meluruskannya pada waktu itu, karena saya takut dia tersinggung. Saya husnuzhon saja mungkin dia belum tahu bagaimana peraturan melamar. Kalau kita ambil mafhum hadis ini “Seorang laki-laki tidak boleh melamar wanita yang telah dilamar saudaranya, hingga saudaranya itu meninggalkannya atau mengizinkannya (untuk melamarnya)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5142]”. Berarti sampai sekarang ikhwan tadi masih ada ikatan lamar sampai sekarang walaupun ia telah menikah, karena dia belum mengkonfirmasi meninggalkannya atau memberi izin untuk dilamar orang lain, karena status mereka sewaktu ta’arufan sama-sama suka. Saya sangat bingung melihat kasus ini, mungkin ada yang memberi masukan nanti.
 Memang agak sulit berbicara jodoh terlalu panjang. Sebab mengenai hal ini adalah perkara yang ghaib. Secerdas apapun kita menyusun strategi untuk mendapatkan seorang akhwat, ada yang lebih cerdas dan yang lebih maha mengetahui siapa yang pantas untuk kita. Jadi, sekarang tugas kita cuman satu, kita harus ridho  menerima taqdir Allah Swt. Ridho bukan berarti kita menunggu dan tidak berbuat apa-apa. Ridho adalah kita rela menerima siapapun yang kita pilih ataupun siapapun yang dijodohkan kepada kita. Karena semua yang terjadi dalam hidup ini tidaklah sia-sia. Kalau mendapat perempuan yang beriman, sholehah, dan ‘alim kita harus bersyukur seperti Nabi kita Muhammad Saw. Kalau mendapat perempuan yang kurang baik, cerewet, dan tidak patuh terhadap suami kita harus bersabar layaknya seperti nabi Nuh a.s.
Ingatlah kawan!. Umur sudah bertambah tapi belum tentu semua orang dewasa. Dewasa itu adalah pilihan. Yaitu memilih kehidupan seperti biasa-biasa saja atau mau berubah lebih mempersiapkan diri menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Agar kelak yang kita dapatkan insya Allah juga orang yang beriman dan yang taat juga. Amin
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)  


2 komentar: