Selasa, 03 Mei 2016

Apa Yang Kita Lakukan, Sementara Mereka Merintih



Kita terlalu lama dinina bobokkan oleh indahnya kehidupan dunia tanpa memahami betapa egoisnya diri kita ini sekarang. Sementara saudara kita muslim yang lain merasakan rintihan setiap saat. Palestina masih berbekas dikepala mereka bagaimana kejamnya Israel merebut negara mereka sendiri dengan membunuh orang-orang yang tak berdosa, anak-anak yang masih kecil yang seharusnya menikmati dunia bermain bercanda tawa dengan teman sebaya mereka tak pernah mereka rasakan, bahkan kasih sayang orang tua mereka tak jarang lenyap hilang ditelan bumi, diakibatkan syahid di medan pertempuran mempertahankan harta, jiwa, dan tanah kelahiran mereka yang merupakan warisan para Al-Anbiya’ yakni masjid Al-Aqso. Begitu juga saudara kita yang berada di Aleppo Suriah, hampir setiap hari ada yang mati diakibatkan serangan kejam dari rezim Bashar Al Assaad yang tidak pernah senang melihat kehidupan mayoritas muslim Sunni. Sementara kita kawan!... asyik dengan kesibukan kita masing-masing tanpa ada yang mengganggu. Kita masih bisa menghirup udara segar, bermain dengan keluarga, mengerjakan tugas, beribadah, dan sebagainya tanpa ada yang kita takuti.

Mungkin kita sudah lupa apa yang dititahkan tuhan terhadap kita. Selain menyembah Allah Swt. secara vertikal, kita juga harus beribadah melalui perantara hambanya yang berada disaentero bumi ini. Sehingga Allah Swt. selalu mengulang-ulang di dalam firmannya kata “Aqimus Sholata Wa atuzzakata”,  yang artinya dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Menujukkan begitu pentingnya menunaikan zakat sehingga disetarakan dengan pentingnya mendirikan shalat. Bukan berarti hanya sekedar menunaikan zakat, tetapi jauh lebih dimaknai membantu orang yang lagi membutuhkan, apalagi menyangkut nyawa.
Jadi, apa yang harus kita lakukan. Apakah kita harus ikut beperang angkat senjata melawan mereka yang memerangi umat Islam?. Tidak. Apakah kita harus memboikot semua produksi musuh-musuh Islam?. Juga tidak. Sebab itu bukanlah pertanyaan yang kita pertanggung jawabkan di ‘Alam Barzah/akhirat nanti, tapi itu adalah tanggung jawab pemimpin wathan ini. Yang ditanyakan kepada kita nanti adalah siapa saudara-saudaramu? Tentunya saudara kita adalah semua kaum mu’min. Apa-apa saja yang sudah kita lakuakan kepada saudara kita. Tandanya kita saudara apakah kita sudah pernah menangis melihat mereka. Layaknya seperti saudara kandung di rumah kita, seharusnya ada kontribusi yang  kita lakukan kepada mereka yang sedang mengalami musibah. Setidaknya mulai sekaranga kita ada ikut ambil bagian memudahkan kesusahan yang mereka rasakan. Dengan cara mendo’akan mereka agar tetap kuat dan diberi kesabaran menjalani taqdir Allah Swt., dan memberikan sumbangan material maupun non-material sesuai dengan kesanggupan kita.  Mudah-mudahan kita terdetak melihat mereka, sehingga kita empati meraskan apa yang mereka rasakan. Semoga. Wallahu’alam Bis Showab



Tidak ada komentar:

Posting Komentar