Kita terlalu lama dinina bobokkan oleh indahnya kehidupan dunia tanpa
memahami betapa egoisnya diri kita ini sekarang. Sementara saudara kita muslim
yang lain merasakan rintihan setiap saat. Palestina masih berbekas dikepala
mereka bagaimana kejamnya Israel merebut negara mereka sendiri dengan membunuh
orang-orang yang tak berdosa, anak-anak yang masih kecil yang seharusnya
menikmati dunia bermain bercanda tawa dengan teman sebaya mereka tak pernah
mereka rasakan, bahkan kasih sayang orang tua mereka tak jarang lenyap hilang ditelan
bumi, diakibatkan syahid di medan pertempuran mempertahankan harta,
jiwa, dan tanah kelahiran mereka yang merupakan warisan para Al-Anbiya’ yakni
masjid Al-Aqso. Begitu juga saudara kita yang berada di Aleppo Suriah, hampir
setiap hari ada yang mati diakibatkan serangan kejam dari rezim Bashar Al Assaad
yang tidak pernah senang melihat kehidupan mayoritas muslim Sunni. Sementara
kita kawan!... asyik dengan kesibukan kita masing-masing tanpa ada yang
mengganggu. Kita masih bisa menghirup udara segar, bermain dengan keluarga,
mengerjakan tugas, beribadah, dan sebagainya tanpa ada yang kita takuti.
Mungkin kita sudah lupa apa yang dititahkan tuhan terhadap kita.
Selain menyembah Allah Swt. secara vertikal, kita juga harus beribadah melalui
perantara hambanya yang berada disaentero bumi ini. Sehingga Allah Swt. selalu
mengulang-ulang di dalam firmannya kata “Aqimus Sholata Wa atuzzakata”, yang artinya dirikanlah shalat dan tunaikanlah
zakat. Menujukkan begitu pentingnya menunaikan zakat sehingga disetarakan
dengan pentingnya mendirikan shalat. Bukan berarti hanya sekedar menunaikan
zakat, tetapi jauh lebih dimaknai membantu orang yang lagi membutuhkan, apalagi
menyangkut nyawa.
Jadi, apa yang harus kita lakukan. Apakah kita harus ikut beperang angkat
senjata melawan mereka yang memerangi umat Islam?. Tidak. Apakah kita harus
memboikot semua produksi musuh-musuh Islam?. Juga tidak. Sebab itu bukanlah pertanyaan
yang kita pertanggung jawabkan di ‘Alam Barzah/akhirat nanti, tapi itu adalah
tanggung jawab pemimpin wathan ini. Yang ditanyakan kepada kita
nanti adalah siapa saudara-saudaramu? Tentunya saudara kita adalah semua kaum
mu’min. Apa-apa saja yang sudah kita lakuakan kepada saudara kita. Tandanya kita saudara apakah
kita sudah pernah menangis melihat mereka. Layaknya seperti saudara kandung
di rumah kita, seharusnya ada kontribusi yang kita lakukan kepada mereka yang sedang mengalami musibah. Setidaknya mulai sekaranga kita ada ikut ambil
bagian memudahkan kesusahan yang mereka rasakan. Dengan cara mendo’akan
mereka agar tetap kuat dan diberi kesabaran menjalani taqdir Allah Swt.,
dan memberikan sumbangan material maupun non-material sesuai dengan kesanggupan
kita. Mudah-mudahan kita terdetak
melihat mereka, sehingga kita empati meraskan apa yang mereka rasakan.
Semoga. Wallahu’alam Bis Showab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar