MENGHAFAL DITENGAH KESIBUKAN, APAKAH
BISA?
Semester
VII-VIII adalah semester yang dipenuhi segala bentuk kerjaan, kewajiban,
kebutuhan, dan kegalauan. Karena di semester ini kita akan memikirkan judul
kapan di ACC, menyelesaikan proposal skripsi, observasi, penelitian, disambut
lagi ujian akhir semester, laporan PPL lagi asik revisi dari pihak LAB, lain
lagi yang mempersiapkan ujian kompri dengan syarat toefle harus mencapai 400
score dan hafalan lagi mau nggak mau harus hafal satu juz. Inilah beberapa
Pekerjaan yang begitu terstruktur dan sangat sistematis yang harus diselesaikan
student yang bergelar “Maha” itu.
Sanggup kah Menghapal lagi?
Banyak
orang yang mengatakan menghafal itu harus dilakukan di waktu yang kosong dan di
tempat yang tenang pula. Hal ini kedudukannya untuk mendapatkan hasil yang
maksimal. Sehingga tidak jarang kita lihat orang tua yang ingin anaknya menjadi
hafiz dan hafizah memang ditempatkan di tempat yang khusus seperti Islamic
Center, atau rumah-rumah tahfiz lainnya. Dan memang terbukti dengan masa 2
tahun kurang lebih anaknya sudah hafal 30 juz. Namun, Kendalanya bagi mahasiswa
yang saya jelaskan di atas tadi, kemungkinan besar tidak memiliki waktu dan
kesempatan masuk ke rumah tahfiz lagi. Melihat pekerjaan yang begitu menumpuk
dan mengejar target yang sudah diambang pintu. Sehingga mahasiswa sekarang
apabila ditanya mengenai hafalan kebanyakan jawabannya “belum hafal” alasannya
sibuk dan menyibukkan.
Lantas apa yang harus
dilakukan?
Selama
ini kita gagal mengahafal al-Qur’an karena kita memang lebih dahulu sudah
menjust diri kita tidak sanggup menghafal al-Qur’an. Kita sering mengatakan
tidak bisa menghafal dengan alasan yang bermcam-macam, sebagai contoh kita
sering mengatakan: “mana bisa lagi saya menghafal al-Qur’an di usia yang tua
seperti ini”, “ingatan saya sangat lemah jadi saya tidak berbakat menghafal
al-Qur’an”, “kerjaan saya menumpuk mana sempat lagi menghafal”, “nanti tunggu
tenang baru bisa saya menghafal”. Ini adalah pesan-pesan yang kita sampaikan
terhadap internal diri kita sendiri. Sehingga sampai sekarang kita tidak bisa
menghafal al-Qur’an, karena motivasi yang masuk selama ini adalah motivasi
negatif yaitu motivasi alasan tidak bisa menghafal al-Qur’an.
Kita
harus bangun persepsi positif terhadap diri kita sendiri. Mulailah percaya
dengan diri kita sendiri bahwasanya kita bisa. Kalau diri kita saja belum yakin
apalagi orang lain. Tidak ada gunanya kita ngeluh terhadap teman kita bahwa
kita tidak bisa menghafal al-Qur’an. Karena bukan bantuan yang bakal kita dapatkan
malah ocehan dan bahan tertawaan.
Katakan dengan lantang dan teriakkan di dalam diri kita bahwa “saya bisa
menghafal al-Qur’an” walaupun dalam keadaan seperti apa.
Memang
betul kita sangat sibuk. Tapi ingatlah, kalau kita sanggup menghafal dalam keadaan
seperti ini berarti kita bisa menyelesaikan masalah walaupun serumit apa pun.
Ini adalah tantangan tersendiri. Sibuk tapi hafal, lebih istimewa dibanding
tenang dan hafal.
Mulai
sekarang kita memang harus memanejemen waktu sebaik mungkin. Kalau sepanjang
hari kita sibuk setidaknya kita sempatkan menghafal di waktu yang tidak ada
kerjaan seperti ba’da subuh atau sebelum subuh. Tentunya supaya tidak ngantuk pada
saat itu, kita harus tidur lebih awal sekitar pukul 22 kebawah. Dan kita juga
harus sempatkan mengulang-ngulang hafalan setiap hari. Tidak usah formal-
formal kali roja’anya. Habis sholat kita duduk sebentar seperti berzikir 5
menit, zikir yang biasa kita pake sementara kita ganti dulu menghafal
al-Qur’an. Setelah kita yakin sudah lancar baru kita ajak kawan-kawan kumpul di
hari libur sepeti hari minggu, ngobrol-ngobrol, makan-makan, setelah tidak ada
lagi yang dibahas baru kemudian kita
hafal di hadapan mereka. Saya rasa sangat mudah simpel dan tidak memakan waktu
kesibukan. Inilah secercah tips dari saya udah-mudahan bermanfaat. Wallahu
‘alam
Dan sesungguhnya telah Kami
mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran
(QS. Al-Qomar : 17)

Pasti bisa ustadz, kalau mau
BalasHapusPasti bisa ustadz, kalau mau
BalasHapus