Rabu, 18 Mei 2016

SALAFI VS JAMA’AH TABLIGH, SIAPA YANG LEBIH SESAT?



Judul di atas hanya menarik pembaca saja. Sebenarnya diantara keduanya tidak ada yang sesat. Karena masih berpedoman pada Al-Qur’an dan As-sunnah. Cuman sering berdebat asal jumpa. Termasuk saya apabila jumpa sama jama’ah Salafi, dengan catatan kalau ada penjelasannya yang tidak sesuai menurut yang saya ketahui. Saya memang lebih pro kepada Jama’ah tabligh karena saya lebih suka metode dakwah mereka. Namun saya juga tidak menafikkan metode dakwah saudara-saudara muslim kita yang lain.
Semalam, saya baru saja berdebat dengan salah satu teman saya di FB. Yang mana beliau dengan argument-argumentnya menyerang saya. Kemungkinan menurutnya tuduhannya itu benar, mungkin karena belum tahu. Tapi saya hanya senyum-senyum saja semalam. Dan tidak ambil pusing. Kapan-kapan saya bisa jumpa dengannya dan menjelaskan apa yang saya ketahui. Walaupun tidak jumpa setidaknya saya sudah menulis ini agar ada pencerahan sedikit.
Yang agak terkejut saya semalam, beliau ada mengatakan JAMA’AH TABLIGH ke india untuk ziarah ke makam Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi. Pernyataan di atas tentunya jangan ditelan bulat-bulat dulu. Tanyakan dulu kepadanya “Dari mana Bapak dapat berita itu?”. Dan tanyakan lagi “Apakah Bapak sudah pergi kesana?, Sudah meneliti kebenaran berita itu? atau hanya kabar burung?”. Baik, saya tidak akan menyalahkan dia, kareana ini adalah saya sendiri karena belum mengasih tahunya.
Di India adalah salah satu Markas Jama’ah Tabiligh. Mereka kesana untuk belajar layaknya kita belajar ke luar negeri. Kalau kita ke Amerika belajar di tempat orang kafir (yahudi dan Nasrani)  satupun orang tidak ada mempertanyakannya. Apakah sesat atau tidak. Bahakan mereka bukan 40 hari lagi keluar, lebih dari itu sesuai dengan tuntutan. Kemudian mengapa harus ke Inda? Mengapa tidak ke Makkah atau Madinah?
Islam tidak dibatasi untuk hidup dimanapun. Tidak mesti di tanah Arab, atau ditempat tertentu. Islam bukan milik pribadi bangsa tertentu. Islam milik pemeluknya, siapapun dan dimana pun. Siapa pun berkewajiban menghidupkan Islam, dan Islam berhak hidup di mana saja, sesuai dengan ketentuan dan kehendak Allah Ta’ala. Jadi, kepergian JAMA’AH TABLIGH ke India bukanlah menafikkan keutamaan Mekkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Sama sekali tidak demikian! Kepergian JAMA’AH TABLIGH kesana adalah untuk mempelajari kehidupan dakwah secara praktek langsung. Karena disana, kita akan menyaksikan langsung kerjasama yang indah antara Muhajirin dan Anshar dalam menegakkan agama. Kerja sama antara orang alim dan orang biasa, antara orang kaya dengan orang miskin, antara orang tua dan muda, yaitu dalam kerja agama. Disana akan dipelajari suasana keimanan yang marak dibicarakan, suasana dakwah ilallah, suasana ta’lim wa ta’lum, suasana dzikir dan ibadah yang khusyu lagi khudu’, suasana saling memuliakan, suasana ukhwah diantara kaum muslimin seluruh dunia, dan berbagai pelajaran lainnya secara praktek dan kehidupan nyata.
Dan saya ingatkan kembali, mereka ke India bukan naik haji. Karena apabila kita sempat mengatakan itu termasuklah kita fitnah para pembohong. Dan saya ingin mengingatkan juga marilah kita amalkan hadis-hadis Rasulullah Saw mengenai menyeleksi berita dari orang lain. karena tidak semua itu benar, banyak berita yang palsu, yang perlu di filter sesuai dengan fakta. Untuk sementara saya kira ini dulu yang bisa saya jawab dalam pembahasan ini. Lain kali kita lanjutkan apabila ada yang mendzolimi JAMA’AH TABLIGH.

Selasa, 03 Mei 2016

Apa Yang Kita Lakukan, Sementara Mereka Merintih



Kita terlalu lama dinina bobokkan oleh indahnya kehidupan dunia tanpa memahami betapa egoisnya diri kita ini sekarang. Sementara saudara kita muslim yang lain merasakan rintihan setiap saat. Palestina masih berbekas dikepala mereka bagaimana kejamnya Israel merebut negara mereka sendiri dengan membunuh orang-orang yang tak berdosa, anak-anak yang masih kecil yang seharusnya menikmati dunia bermain bercanda tawa dengan teman sebaya mereka tak pernah mereka rasakan, bahkan kasih sayang orang tua mereka tak jarang lenyap hilang ditelan bumi, diakibatkan syahid di medan pertempuran mempertahankan harta, jiwa, dan tanah kelahiran mereka yang merupakan warisan para Al-Anbiya’ yakni masjid Al-Aqso. Begitu juga saudara kita yang berada di Aleppo Suriah, hampir setiap hari ada yang mati diakibatkan serangan kejam dari rezim Bashar Al Assaad yang tidak pernah senang melihat kehidupan mayoritas muslim Sunni. Sementara kita kawan!... asyik dengan kesibukan kita masing-masing tanpa ada yang mengganggu. Kita masih bisa menghirup udara segar, bermain dengan keluarga, mengerjakan tugas, beribadah, dan sebagainya tanpa ada yang kita takuti.

Mungkin kita sudah lupa apa yang dititahkan tuhan terhadap kita. Selain menyembah Allah Swt. secara vertikal, kita juga harus beribadah melalui perantara hambanya yang berada disaentero bumi ini. Sehingga Allah Swt. selalu mengulang-ulang di dalam firmannya kata “Aqimus Sholata Wa atuzzakata”,  yang artinya dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Menujukkan begitu pentingnya menunaikan zakat sehingga disetarakan dengan pentingnya mendirikan shalat. Bukan berarti hanya sekedar menunaikan zakat, tetapi jauh lebih dimaknai membantu orang yang lagi membutuhkan, apalagi menyangkut nyawa.
Jadi, apa yang harus kita lakukan. Apakah kita harus ikut beperang angkat senjata melawan mereka yang memerangi umat Islam?. Tidak. Apakah kita harus memboikot semua produksi musuh-musuh Islam?. Juga tidak. Sebab itu bukanlah pertanyaan yang kita pertanggung jawabkan di ‘Alam Barzah/akhirat nanti, tapi itu adalah tanggung jawab pemimpin wathan ini. Yang ditanyakan kepada kita nanti adalah siapa saudara-saudaramu? Tentunya saudara kita adalah semua kaum mu’min. Apa-apa saja yang sudah kita lakuakan kepada saudara kita. Tandanya kita saudara apakah kita sudah pernah menangis melihat mereka. Layaknya seperti saudara kandung di rumah kita, seharusnya ada kontribusi yang  kita lakukan kepada mereka yang sedang mengalami musibah. Setidaknya mulai sekaranga kita ada ikut ambil bagian memudahkan kesusahan yang mereka rasakan. Dengan cara mendo’akan mereka agar tetap kuat dan diberi kesabaran menjalani taqdir Allah Swt., dan memberikan sumbangan material maupun non-material sesuai dengan kesanggupan kita.  Mudah-mudahan kita terdetak melihat mereka, sehingga kita empati meraskan apa yang mereka rasakan. Semoga. Wallahu’alam Bis Showab



Minggu, 01 Mei 2016

Bidadari Tak Bersayap, Namun Berhijab



   Statement di atas adalah kata-kata yang saya dapatkan dari film “Lenyap dalam Sunyi” yang digarap oleh Fisabilillah Prodution. Yang mana di dalam film itu dikisahkan seorang mas Prana sangat mencintai seorang gadis yang sangat anggun, sehingga ia menjuluki gadis itu layaknya seorang bidadari tak bersayap, namun berhijab.
Saya tidak cerita panjang lebar tentang film itu. Karena kalau ingin tahu lebih mendalam tunggu saja screening & sharing yang ke-2 dari fisabilillah production, menurutku film itu layak untuk ditonton, menginspirasi dan sebagai media dakwah Islam zaman sekarang. Baik, langsung saja yang ingin saya sampaikan di dalam tulisan ini adalah seperti apakah yang diinginkan kaum adam terhadap kaum hawa di akhir zaman ini. Mengapa topik ini yang dibahas? Karena itulah isu-isu yang terhangat dikalangan sarjana muda yang sering mereka bahas.
“Bagaimana yang antum inginkan calon istri, apakah seorang akhwat atau perempuan biasa?” tanya seorang teman kepada saya. Langsung saja saya jawab “seorang akhwat”. Dia pun bertanya kembali ”mengapa?...”. Dengan suara mendatar saya jawab “karena saya yakin, kalau seorang akhwat bukan hanya kita yang memeperbaiki dia, malah dia yang memperbaiki agama kita”. Jawaban ini saya kira adalah jawaban spontan yang saya tafsirkan dengan bahasa saya sendiri dari hadis Rasulullah Saw. mengenai memilih pasangan. Yang mana Rasulullah Saw. menyarankan untuk memilih seseorang karena agamanya.
Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.
  
Namun yang menjadi perdebatan panjang adalah seorang akhwat. Apakah seorang akhwat itu sudah dijamin agamanya?. Kalau saya menjawab memang tidak. Namun saya juga tidak mengatakan orang biasa itu tidak beragama, bisa jadi mereka lebih beragama dibanding seorang akhwat. Tidak menutup kemungkinan seorang akhwat itu bisa melekat pada siapapun, kalau diartikan seorang akhwat adalah orang yang beragama. Karena selama ini yang diketahui seorang akhwat itu adalah orang yang berada di dalam oraganisasi Islam. Padahal penafsiran saya sendiri seorang akhwat itu adalah setiap orang yang dapat menjaga dirinya dengan syari’at Allah Swt., jadi siapapun yang bisa menjaga kesuciannya dengan syari’at Allah Swt. berarti dia seorang akhwat, walaupun dia bukan masuk di dalam organisasi Islam yang mengatasnamakan keakhwatan.
Kembali ke topik pembahasan dalam memilih pasangan. Pernah saya cerita dengan seorang ikhwan (dalam artian seorang yang beragama seperti penafsiran akhwat yang di atas), dia  mengatakan beliau pernah dita’artufkan dengan seorang akhwat. Seorang akhwat yang luar biasa, selain berhijab ia juga memakai cadar. Namun saya kurang senang dari kesimpulan cerita itu, sebab ia tidak jadi memilih yang bercadar itu, yang ia pilih akhwat yang lain yang menurutnya lebih cantik, itupun tanpa konfirmasi sama yang pertama tadi. Jadi, saya menanyakan mengapa tidak jadi sama akhwat yang pertama tadi? Dan mengapa memilih yang kedua?. Dengan santai dia menjawab, saya tidak mau menyakiti dia dan kedua orang tuanya atas keputusan yang saya pilih. Kemudian jawaban yang kedua ia menjawab karena istri adalah surga dunia.
Memang jawaban dia betul, tapi belum tentu benar. Saya tidak ingin meluruskannya pada waktu itu, karena saya takut dia tersinggung. Saya husnuzhon saja mungkin dia belum tahu bagaimana peraturan melamar. Kalau kita ambil mafhum hadis ini “Seorang laki-laki tidak boleh melamar wanita yang telah dilamar saudaranya, hingga saudaranya itu meninggalkannya atau mengizinkannya (untuk melamarnya)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5142]”. Berarti sampai sekarang ikhwan tadi masih ada ikatan lamar sampai sekarang walaupun ia telah menikah, karena dia belum mengkonfirmasi meninggalkannya atau memberi izin untuk dilamar orang lain, karena status mereka sewaktu ta’arufan sama-sama suka. Saya sangat bingung melihat kasus ini, mungkin ada yang memberi masukan nanti.
 Memang agak sulit berbicara jodoh terlalu panjang. Sebab mengenai hal ini adalah perkara yang ghaib. Secerdas apapun kita menyusun strategi untuk mendapatkan seorang akhwat, ada yang lebih cerdas dan yang lebih maha mengetahui siapa yang pantas untuk kita. Jadi, sekarang tugas kita cuman satu, kita harus ridho  menerima taqdir Allah Swt. Ridho bukan berarti kita menunggu dan tidak berbuat apa-apa. Ridho adalah kita rela menerima siapapun yang kita pilih ataupun siapapun yang dijodohkan kepada kita. Karena semua yang terjadi dalam hidup ini tidaklah sia-sia. Kalau mendapat perempuan yang beriman, sholehah, dan ‘alim kita harus bersyukur seperti Nabi kita Muhammad Saw. Kalau mendapat perempuan yang kurang baik, cerewet, dan tidak patuh terhadap suami kita harus bersabar layaknya seperti nabi Nuh a.s.
Ingatlah kawan!. Umur sudah bertambah tapi belum tentu semua orang dewasa. Dewasa itu adalah pilihan. Yaitu memilih kehidupan seperti biasa-biasa saja atau mau berubah lebih mempersiapkan diri menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Agar kelak yang kita dapatkan insya Allah juga orang yang beriman dan yang taat juga. Amin
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)