Judul di atas hanya menarik pembaca saja. Sebenarnya diantara
keduanya tidak ada yang sesat. Karena masih berpedoman pada Al-Qur’an dan
As-sunnah. Cuman sering berdebat asal jumpa. Termasuk saya apabila jumpa sama
jama’ah Salafi, dengan catatan kalau ada penjelasannya yang tidak sesuai
menurut yang saya ketahui. Saya memang lebih pro kepada Jama’ah tabligh karena
saya lebih suka metode dakwah mereka. Namun saya juga tidak menafikkan
metode dakwah saudara-saudara muslim kita yang lain.
Semalam, saya baru saja berdebat dengan salah satu teman saya di
FB. Yang mana beliau dengan argument-argumentnya menyerang saya. Kemungkinan
menurutnya tuduhannya itu benar, mungkin karena belum tahu. Tapi saya hanya
senyum-senyum saja semalam. Dan tidak ambil pusing. Kapan-kapan saya bisa jumpa
dengannya dan menjelaskan apa yang saya ketahui. Walaupun tidak jumpa
setidaknya saya sudah menulis ini agar ada pencerahan sedikit.
Yang agak terkejut saya semalam, beliau ada mengatakan JAMA’AH
TABLIGH ke india untuk ziarah ke makam Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi. Pernyataan
di atas tentunya jangan ditelan bulat-bulat dulu. Tanyakan dulu kepadanya “Dari
mana Bapak dapat berita itu?”. Dan tanyakan lagi “Apakah Bapak sudah pergi
kesana?, Sudah meneliti kebenaran berita itu? atau hanya kabar burung?”. Baik,
saya tidak akan menyalahkan dia, kareana ini adalah saya sendiri karena belum mengasih
tahunya.
Di India adalah salah satu Markas Jama’ah Tabiligh. Mereka kesana untuk
belajar layaknya kita belajar ke luar negeri. Kalau kita ke Amerika belajar di
tempat orang kafir (yahudi dan Nasrani)
satupun orang tidak ada mempertanyakannya. Apakah sesat atau tidak. Bahakan
mereka bukan 40 hari lagi keluar, lebih dari itu sesuai dengan tuntutan. Kemudian
mengapa harus ke Inda? Mengapa tidak ke Makkah atau Madinah?
Islam tidak dibatasi untuk hidup dimanapun. Tidak mesti di tanah
Arab, atau ditempat tertentu. Islam bukan milik pribadi bangsa tertentu. Islam
milik pemeluknya, siapapun dan dimana pun. Siapa pun berkewajiban menghidupkan
Islam, dan Islam berhak hidup di mana saja, sesuai dengan ketentuan dan
kehendak Allah Ta’ala. Jadi, kepergian JAMA’AH TABLIGH ke India bukanlah
menafikkan keutamaan Mekkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Sama
sekali tidak demikian! Kepergian JAMA’AH TABLIGH kesana adalah untuk
mempelajari kehidupan dakwah secara praktek langsung. Karena disana, kita akan
menyaksikan langsung kerjasama yang indah antara Muhajirin dan Anshar dalam
menegakkan agama. Kerja sama antara orang alim dan orang biasa, antara orang
kaya dengan orang miskin, antara orang tua dan muda, yaitu dalam kerja agama. Disana
akan dipelajari suasana keimanan yang marak dibicarakan, suasana dakwah
ilallah, suasana ta’lim wa ta’lum, suasana dzikir dan ibadah yang khusyu lagi
khudu’, suasana saling memuliakan, suasana ukhwah diantara kaum muslimin
seluruh dunia, dan berbagai pelajaran lainnya secara praktek dan kehidupan
nyata.
Dan saya ingatkan kembali, mereka ke India bukan naik haji. Karena apabila
kita sempat mengatakan itu termasuklah kita fitnah para pembohong. Dan saya
ingin mengingatkan juga marilah kita amalkan hadis-hadis Rasulullah Saw
mengenai menyeleksi berita dari orang lain. karena tidak semua itu benar,
banyak berita yang palsu, yang perlu di filter sesuai dengan fakta. Untuk sementara
saya kira ini dulu yang bisa saya jawab dalam pembahasan ini. Lain kali kita
lanjutkan apabila ada yang mendzolimi JAMA’AH TABLIGH.


