Mungkin kebanyakan orang sama dengan seperti
saya. Lebih enak menghabiskan waktu yang menghibur dari pada yang lebih
bermanfaat. Mendengarkan musik, menonton film, dan chatting adalah langganan
yang tak bisa ditinggalkan di hari libur seperti hari minggu ini. Mengapa? Bisa
jadi karena tidak ada kegiatan, atau mungkin karena lazy.
Hiburan memang boleh. Namun yang perlu di
ingat jangan terlalu banyak hiburan dibanding kegiatan yang pokok. Hal ini
dapat kita atur apabila kita bisa melawan si “malas” itu. Sesuatu penyakit yang
berbahaya di dalam diri manusia. Malas bisa merenggut rezeki manusia. Banyak yang
dipecat kerja karena ‘malas’ terlambat datang, tidak diberi nilai oleh dosen
karena ‘malas’ terlambat ujian, bisnis
bubar karena ‘malas’ tidak menepati janji, dan masih banyak lagi.
Kalau ditelusuri malas adalah fitrah
manusia. Yang tidak bisa dihilangkan dari diri manusia. Namun, bisa di
minimalisir. Rasulullah SAW. pernah bersabda “Ingatlah setiap amalan itu ada masa
semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh
beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku,
maka dialah yang binasa.” (HR. Ahmad 2: 188. Sanad hadits ini
shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Maksud
hadis ini secara tekstual menyatakan ada masa malas dan semangat dalam diri
manusia. Ketika saat semangat kita usahakan beramal sebanyak-banyaknya. Dan ketika
masa malas datang setidaknya kita jangan berbuat jahat walaupun beramal
sedikit.
Ada buku yang berjudul “malas tapi sukses”
yang ditulis oleh Fred Gratzon dari Amerika. Dilihat dari judulnya sangat impossible,
kenapa ? karena setahu kita orang sukses itu adalah kumpulan
orang-orang pekerja keras bukan sebaliknya orang malas. Tapi hal ini telah dibuktikan
secara empiris, dan dia juga telah menobatkan dirinya termasuk orang yang malas
tapi sukses. Kok bisa. Bagaimana caranya?
Di dalam buku itu ia menjelaskan orang
malas itu bisa melahirkan kreatifitas. Berbeda dengan orang yang bekerja
membabi-buta. Orang yang bekerja keras misalnya mencangkul disawah, pencangkul yang
terlalu rajin, ia satu harian menghabiskan waktunya dengan memeras keringat
mencangkul, itupun terkadang tidak siap. Tapi kalau orang malas, ia tidak mau
kena trik matahari apalagi memeras keringat sehingga dia mencari cara dengan
memasangkan bajak di pundak sapi/kerbau sehingga pekerjaannya selesai. Cukup simpel,
Inilah orang malas yang dimaksud menurut Fred. Mungkin kalau bahasa saya ini
bukan orang malas, tapi ini adalah orang yang kreatif. Tapi itulah dianya.
Kalau menurut hemat saya, ketika kita
malas kerjakanlah apa yang kita senangi asalkan bermanfaat. Artinya bermanfaat
untuk orang lain. Misalnya Kalau kita suka menggambar/melukis, ketika datang
rasa malas, belajarlah menggambar di photoshop atau corel draw, pasti tidak
bosan karena itu hobby kita. Misalnya kita suka nonton film, ketika ‘malas’ coba-coba
belajar membuat movie maker kenangan di kelas kita. Atau kita suka baca novel, ketika
‘malas’ kita mulai menulis tentang kisah diri kita sendiri. Dan mungkin ada
yang suka bermain musik, ketika datang si ‘malas’ lagi, alihkan kegiatan membuat
lagu religi. Suatu saat nanti, pasti ada yang mengatakan “kreatif juga ya”.
padahal kita mengerjakannya pada saat malas. Selamat mencoba.
Wallahu’alam

Mantap ustadz
BalasHapusMantap ustadz
BalasHapusbelajar menggambar di pothoshop atau corel draw, buat video/film moviemaker,baca novel, nulis tentang diri sendiri..ciiee pengalaman sendiri ni ye.... :D
BalasHapus