Minggu, 13 Maret 2016

“MALAS”!, AKU ADALAH LAWANMU



Mungkin kebanyakan orang sama dengan seperti saya. Lebih enak menghabiskan waktu yang menghibur dari pada yang lebih bermanfaat. Mendengarkan musik, menonton film, dan chatting adalah langganan yang tak bisa ditinggalkan di hari libur seperti hari minggu ini. Mengapa? Bisa jadi karena tidak ada kegiatan, atau mungkin karena lazy.
Hiburan memang boleh. Namun yang perlu di ingat jangan terlalu banyak hiburan dibanding kegiatan yang pokok. Hal ini dapat kita atur apabila kita bisa melawan si “malas” itu. Sesuatu penyakit yang berbahaya di dalam diri manusia. Malas bisa merenggut rezeki manusia. Banyak yang dipecat kerja karena ‘malas’ terlambat datang, tidak diberi nilai oleh dosen karena ‘malas’ terlambat ujian,  bisnis bubar karena ‘malas’ tidak menepati janji,  dan masih banyak lagi.
Kalau ditelusuri malas adalah fitrah manusia. Yang tidak bisa dihilangkan dari diri manusia. Namun, bisa di minimalisir. Rasulullah SAW. pernah bersabda “Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (HR. Ahmad 2: 188. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Maksud hadis ini secara tekstual menyatakan ada masa malas dan semangat dalam diri manusia. Ketika saat semangat kita usahakan beramal sebanyak-banyaknya. Dan ketika masa malas datang setidaknya kita jangan berbuat jahat walaupun beramal sedikit.
Ada buku yang berjudul “malas tapi sukses” yang ditulis oleh Fred Gratzon dari Amerika. Dilihat dari judulnya sangat impossible, kenapa ? karena setahu kita orang sukses itu adalah kumpulan orang-orang pekerja keras bukan sebaliknya orang malas. Tapi hal ini telah dibuktikan secara empiris, dan dia juga telah menobatkan dirinya termasuk orang yang malas tapi sukses. Kok bisa. Bagaimana caranya?
Di dalam buku itu ia menjelaskan orang malas itu bisa melahirkan kreatifitas. Berbeda dengan orang yang bekerja membabi-buta. Orang yang bekerja keras misalnya mencangkul disawah, pencangkul yang terlalu rajin, ia satu harian menghabiskan waktunya dengan memeras keringat mencangkul, itupun terkadang tidak siap. Tapi kalau orang malas, ia tidak mau kena trik matahari apalagi memeras keringat sehingga dia mencari cara dengan memasangkan bajak di pundak sapi/kerbau sehingga pekerjaannya selesai. Cukup simpel, Inilah orang malas yang dimaksud menurut Fred. Mungkin kalau bahasa saya ini bukan orang malas, tapi ini adalah orang yang kreatif. Tapi itulah dianya.
Kalau menurut hemat saya, ketika kita malas kerjakanlah apa yang kita senangi asalkan bermanfaat. Artinya bermanfaat untuk orang lain. Misalnya Kalau kita suka menggambar/melukis, ketika datang rasa malas, belajarlah menggambar di photoshop atau corel draw, pasti tidak bosan karena itu hobby kita. Misalnya kita suka nonton film, ketika ‘malas’ coba-coba belajar membuat movie maker kenangan di kelas kita. Atau kita suka baca novel, ketika ‘malas’ kita mulai menulis tentang kisah diri kita sendiri. Dan mungkin ada yang suka bermain musik, ketika datang si ‘malas’ lagi, alihkan kegiatan membuat lagu religi. Suatu saat nanti, pasti ada yang mengatakan “kreatif juga ya”. padahal kita mengerjakannya pada saat malas. Selamat mencoba.
Wallahu’alam


3 komentar:

  1. belajar menggambar di pothoshop atau corel draw, buat video/film moviemaker,baca novel, nulis tentang diri sendiri..ciiee pengalaman sendiri ni ye.... :D

    BalasHapus