Jumat, 18 Maret 2016

Buku Ukiran Motivasi



Buku ini diberi judul Ukiran Motivasi.Yang berisi penggalan cerita menarik mengenai Mahasiswa/Mahasiswi yang bertemu dan memulai perjalanan panjang di Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Kendati pun ada kesan buku ini semacam anekdot, karena sejumlah kisah yang dimuat dalam buku ini bisa membuat pembaca tersenyum, tertawa, dan juga sedih.Tetapi sebenarnya lebih daripada itu,buku ini berdimensi sejarah dan masa depan yang telah terukir, menceritakan tentang pengalaman, kesan-kesan, harapan-harapan, dan motivasi pada setiap Mahasiswa di PAI 2 yang berjumlah 29 orang. Perbedaan buku ini dengan buku semacamnya, mungkin hanya terletak dalam setting dan nuansa. Karena setiap Mahasiswa memiliki kisah dan pengalaman tersendiri selama berada di PAI 2. Maka tulisan ini disusun berdasarkan absen mahasiswa sendiri, namun pada setiap judul yang di tulis masing-masing Mahasiswa mempunyai pesan tersendiri.
Sejumlah kisah yang disajikan dalam buku ini adalah kisah yang kami alami langsung selama menjadi Mahasiswa di UIN Sumatera Utara. Kisah dan pengalaman yang sangat manusiawi tentang kesedihan, keluguan, kegembiraan, harga diri, kelemahan, konsistensi, kekerasan hati, kenakalan (pada saat awal-awal perkuliahan), serta tentang keindahan dan perbedaan karakter setiap Mahasiswa. Sehingga dari itu semua, kami simpan dengan menguukirnya di dalam tulisan menjadi satu kesatuan motivasi kehidupan.
Testimoni
“Buku yang diberi judul “Ukiran Motivasi” ini sangat Inspiratif.
Apalagi mahasiswa yang mulai mengenal diri atas kesadaran
akan statusnya sebagai mahasiswa yang disebut sebagai
agen of social change mendapat tantangan berat. Pilihan
antara meneruskan perjuangan atau kuliah menjadi tanda tanya
besar yang menyesakkan dada. Seorang intelegensia harus
memiliki kemampuan berfikir yang baik dan mencipta sesuatu
yang baru. Itu adalah tugas utamanya. Guna menjalankan
fungsi sosialnya dengan baik, maka seorang mahasiswa wajib
memiliki kepekaan, kepedulian, dan keberpihakan sosial.
Karena itu, buku ini layak untuk dibaca dan menggelorakan!.”
-Prof. Dr. Syafaruddin, M.Pd.
Dekan Fak. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN-SU
“Memang tidak kita ragui lagi bahwa motivasi adalah jalan untuk
sukses. Karena itu buku ini sangat perlu dibaca terutama oleh teman-teman seangkatan mereka agar menjadi daya dorong Pula, buat mereka untuk mencontoh apa yang telah dibuat oleh teman mereka di PAI-2 ini.”
-Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, M.A.
Guru Besar FITK UIN-SU
“Subhanallah.. perjuangan dan persahabatan
yang begitu panjang dibangun, sangat mengesankan!.
Tidak henti-hentinya membaca ketika dimulai.
Jadi, sangat rugi tidak memiliki buku ini”
-Drs. Abd. Halim Nasution, M. Ag
Ketua Jurusan PAI UIN-SU
Bertabur nasehat semangat dan hikmah. Ini kisah tentang perjuangan dan persahabatan, cita-cita dan curahan cinta pada-Nya, serta tentang kerja keras yang membuat airmata terkuras. Membacanya mengingatkan kita kembali pada perjalanan di universitas kehidupan untuk membekali diri menuju kehidupan hakiki dan akhirat yang abadi. Sangat layak untuk dibaca!
 -Khair, novelis, blogger, pendidik di SIT Bina Insan dan Ma’had Sufiyah Salafiyah Plus
Menulis butuh keberanian. Banyak mahasiswa yang ingin jadi penulis, tapi tidak berani menulis. Melalui buku ini, saya kira akan banyak mahasiswa yang akan termotivasi untuk membuat buku serupa. Ini bagus sebagai langkah awal melahirkan penulis-penulis handal dari UIN SU. Terima kasih buat PAI 2 yang sudah memulainya.
-Maulana M. Hasan, penulis buku Catatan 100 hari & Writing is a Journey.


Minggu, 13 Maret 2016

“MALAS”!, AKU ADALAH LAWANMU



Mungkin kebanyakan orang sama dengan seperti saya. Lebih enak menghabiskan waktu yang menghibur dari pada yang lebih bermanfaat. Mendengarkan musik, menonton film, dan chatting adalah langganan yang tak bisa ditinggalkan di hari libur seperti hari minggu ini. Mengapa? Bisa jadi karena tidak ada kegiatan, atau mungkin karena lazy.
Hiburan memang boleh. Namun yang perlu di ingat jangan terlalu banyak hiburan dibanding kegiatan yang pokok. Hal ini dapat kita atur apabila kita bisa melawan si “malas” itu. Sesuatu penyakit yang berbahaya di dalam diri manusia. Malas bisa merenggut rezeki manusia. Banyak yang dipecat kerja karena ‘malas’ terlambat datang, tidak diberi nilai oleh dosen karena ‘malas’ terlambat ujian,  bisnis bubar karena ‘malas’ tidak menepati janji,  dan masih banyak lagi.
Kalau ditelusuri malas adalah fitrah manusia. Yang tidak bisa dihilangkan dari diri manusia. Namun, bisa di minimalisir. Rasulullah SAW. pernah bersabda “Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (HR. Ahmad 2: 188. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Maksud hadis ini secara tekstual menyatakan ada masa malas dan semangat dalam diri manusia. Ketika saat semangat kita usahakan beramal sebanyak-banyaknya. Dan ketika masa malas datang setidaknya kita jangan berbuat jahat walaupun beramal sedikit.
Ada buku yang berjudul “malas tapi sukses” yang ditulis oleh Fred Gratzon dari Amerika. Dilihat dari judulnya sangat impossible, kenapa ? karena setahu kita orang sukses itu adalah kumpulan orang-orang pekerja keras bukan sebaliknya orang malas. Tapi hal ini telah dibuktikan secara empiris, dan dia juga telah menobatkan dirinya termasuk orang yang malas tapi sukses. Kok bisa. Bagaimana caranya?
Di dalam buku itu ia menjelaskan orang malas itu bisa melahirkan kreatifitas. Berbeda dengan orang yang bekerja membabi-buta. Orang yang bekerja keras misalnya mencangkul disawah, pencangkul yang terlalu rajin, ia satu harian menghabiskan waktunya dengan memeras keringat mencangkul, itupun terkadang tidak siap. Tapi kalau orang malas, ia tidak mau kena trik matahari apalagi memeras keringat sehingga dia mencari cara dengan memasangkan bajak di pundak sapi/kerbau sehingga pekerjaannya selesai. Cukup simpel, Inilah orang malas yang dimaksud menurut Fred. Mungkin kalau bahasa saya ini bukan orang malas, tapi ini adalah orang yang kreatif. Tapi itulah dianya.
Kalau menurut hemat saya, ketika kita malas kerjakanlah apa yang kita senangi asalkan bermanfaat. Artinya bermanfaat untuk orang lain. Misalnya Kalau kita suka menggambar/melukis, ketika datang rasa malas, belajarlah menggambar di photoshop atau corel draw, pasti tidak bosan karena itu hobby kita. Misalnya kita suka nonton film, ketika ‘malas’ coba-coba belajar membuat movie maker kenangan di kelas kita. Atau kita suka baca novel, ketika ‘malas’ kita mulai menulis tentang kisah diri kita sendiri. Dan mungkin ada yang suka bermain musik, ketika datang si ‘malas’ lagi, alihkan kegiatan membuat lagu religi. Suatu saat nanti, pasti ada yang mengatakan “kreatif juga ya”. padahal kita mengerjakannya pada saat malas. Selamat mencoba.
Wallahu’alam