Minggu, 24 Januari 2016

HARUSKAH GURU PAI MEMILIKI SCORE TOEFLE 400?



            Sebenarnya tulisan ini saya ambil dari teman-teman yang kurang setuju dengan kebijakan baru FITK UIN-SU yang mengharuskan Mahasiswa mencapai score toefle 400. “Kalau tidak lulus gimana?, berarti nggak jadilah wisuda di bulan Mei nanti” ungkap salah satu teman dengan wajah yang penuh cemas, takut, khawatir, dan bahkan ada yang hampir nangis.
            Ada tiga tanggapan dengan kebijakan baru ini. Yang pertama, mereka sama sekali tidak setuju, dengan alasan bukan jurusan B. Inggris. Kedua, mereka berada di pertengahan; awalnya setuju/santai-santai saja tiba di akhir pada waktu mau ujian baru mereka komplain. Sedangkan yang terakhir setuju; ikhlas dijalani aja, pasti ada jalan keluar, karena hal ini adalah kebijakan yang positive untuk meningkatkan kualitas pendidik yang berstandard nasional dan Insya Allah internasional .
            Jauh sebelum ujian besok, sebenarnya regulasi ini sudah diinformasikan sejak awal kuliah di semester pertama. Tapi apa boleh buat, karena pengalamanlah kita terkadang banyak mendapat pelajaran dan terkadang kita juga bisa terjebak. Sebab kamipun sebenarnya tidak diam diri, yang pertama kami lakukan setelah mendengar peraturan ini adalah bertanya, menanyakan senioran “apakah betul kebijakan itu” dan hampir setiap senioran yang kami tanyakan pasti jawabannya seperti ini “Orang abang/kakakpun dulu begitu juga dibilang, tapi nyatanya kami tidak ada ujian toefle”. Hal inilah yang membuat mahasiswa merasa tenang-tenang saja. Namun, ada juga sebagian mahasiswa masih penasaran sehingga langsung menyakan kepada Dekan FITK UIN-SU. Dan jawabannya betul, memang diterapkan tepat di tahun ini.
            Kendalanya yang perlu kita ketahui, mahasiswa FITK UIN-SU rata-rata tammatan pesantren. Mungkin presentasenya 90 %. Dan kebanyakan dari pesantren salafi yang sama sekali tidak ada mata pelajaran B. Inggris dulunya. Tapi apalah daya kita tidak usah lagi menyalahkan siapa-siapa. Tak ada gunanya. Lebih baik kita angsur-angsur membaca buku-buku toefle. Mana tahu ada yang lengket. Atau karena melihat usaha kita yang keras Allah mudahkan kita besok. Bisa saja kebetulan apa yang kita karang itu bisa benar. Dan jangan lupa shalat tahajjud supaya tidak cemas lagi.
            Untuk seterusnya bagi mahasiswa baru. Mulai sekarang belajarlah. Karena kalian masih memiliki banya waktu. Jangan menunggu waktu luang. Tapi luangkanlah waktumu untuk belajar. Karena kami telah merasakan yang belum kalian rasakan. Mudah-mudahan bermanfaat.  Wallahu ‘Alam Bisshowab

Selasa, 12 Januari 2016

MENGHAFAL DITENGAH KESIBUKAN, APAKAH BISA?



MENGHAFAL DITENGAH KESIBUKAN, APAKAH BISA?
Semester VII-VIII adalah semester yang dipenuhi segala bentuk kerjaan, kewajiban, kebutuhan, dan kegalauan. Karena di semester ini kita akan memikirkan judul kapan di ACC, menyelesaikan proposal skripsi, observasi, penelitian, disambut lagi ujian akhir semester, laporan PPL lagi asik revisi dari pihak LAB, lain lagi yang mempersiapkan ujian kompri dengan syarat toefle harus mencapai 400 score dan hafalan lagi mau nggak mau harus hafal satu juz. Inilah beberapa Pekerjaan yang begitu terstruktur dan sangat sistematis yang harus diselesaikan student yang bergelar “Maha” itu.
Sanggup kah Menghapal lagi?
Banyak orang yang mengatakan menghafal itu harus dilakukan di waktu yang kosong dan di tempat yang tenang pula. Hal ini kedudukannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sehingga tidak jarang kita lihat orang tua yang ingin anaknya menjadi hafiz dan hafizah memang ditempatkan di tempat yang khusus seperti Islamic Center, atau rumah-rumah tahfiz lainnya. Dan memang terbukti dengan masa 2 tahun kurang lebih anaknya sudah hafal 30 juz. Namun, Kendalanya bagi mahasiswa yang saya jelaskan di atas tadi, kemungkinan besar tidak memiliki waktu dan kesempatan masuk ke rumah tahfiz lagi. Melihat pekerjaan yang begitu menumpuk dan mengejar target yang sudah diambang pintu. Sehingga mahasiswa sekarang apabila ditanya mengenai hafalan kebanyakan jawabannya “belum hafal” alasannya sibuk dan menyibukkan.
Lantas apa yang harus dilakukan?
Selama ini kita gagal mengahafal al-Qur’an karena kita memang lebih dahulu sudah menjust diri kita tidak sanggup menghafal al-Qur’an. Kita sering mengatakan tidak bisa menghafal dengan alasan yang bermcam-macam, sebagai contoh kita sering mengatakan: “mana bisa lagi saya menghafal al-Qur’an di usia yang tua seperti ini”, “ingatan saya sangat lemah jadi saya tidak berbakat menghafal al-Qur’an”, “kerjaan saya menumpuk mana sempat lagi menghafal”, “nanti tunggu tenang baru bisa saya menghafal”. Ini adalah pesan-pesan yang kita sampaikan terhadap internal diri kita sendiri. Sehingga sampai sekarang kita tidak bisa menghafal al-Qur’an, karena motivasi yang masuk selama ini adalah motivasi negatif yaitu motivasi alasan tidak bisa menghafal al-Qur’an.
Kita harus bangun persepsi positif terhadap diri kita sendiri. Mulailah percaya dengan diri kita sendiri bahwasanya kita bisa. Kalau diri kita saja belum yakin apalagi orang lain. Tidak ada gunanya kita ngeluh terhadap teman kita bahwa kita tidak bisa menghafal al-Qur’an. Karena bukan bantuan yang bakal kita dapatkan malah ocehan dan bahan tertawaan. Katakan dengan lantang dan teriakkan di dalam diri kita bahwa “saya bisa menghafal al-Qur’an” walaupun dalam keadaan seperti apa.
Memang betul kita sangat sibuk. Tapi ingatlah, kalau kita sanggup menghafal dalam keadaan seperti ini berarti kita bisa menyelesaikan masalah walaupun serumit apa pun. Ini adalah tantangan tersendiri. Sibuk tapi hafal, lebih istimewa dibanding tenang dan hafal.
Mulai sekarang kita memang harus memanejemen waktu sebaik mungkin. Kalau sepanjang hari kita sibuk setidaknya kita sempatkan menghafal di waktu yang tidak ada kerjaan seperti ba’da subuh atau sebelum subuh. Tentunya supaya tidak ngantuk pada saat itu, kita harus tidur lebih awal sekitar pukul 22 kebawah. Dan kita juga harus sempatkan mengulang-ngulang hafalan setiap hari. Tidak usah formal- formal kali roja’anya. Habis sholat kita duduk sebentar seperti berzikir 5 menit, zikir yang biasa kita pake sementara kita ganti dulu menghafal al-Qur’an. Setelah kita yakin sudah lancar baru kita ajak kawan-kawan kumpul di hari libur sepeti hari minggu, ngobrol-ngobrol, makan-makan, setelah tidak ada lagi yang dibahas baru   kemudian kita hafal di hadapan mereka. Saya rasa sangat mudah simpel dan tidak memakan waktu kesibukan. Inilah secercah tips dari saya udah-mudahan bermanfaat. Wallahu ‘alam
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran (QS. Al-Qomar : 17)