Sebenarnya tulisan ini saya ambil
dari teman-teman yang kurang setuju dengan kebijakan baru FITK UIN-SU yang
mengharuskan Mahasiswa mencapai score toefle 400. “Kalau tidak lulus gimana?,
berarti nggak jadilah wisuda di bulan Mei nanti” ungkap salah satu teman dengan
wajah yang penuh cemas, takut, khawatir, dan bahkan ada yang hampir nangis.
Ada tiga tanggapan dengan kebijakan
baru ini. Yang pertama, mereka sama sekali tidak setuju, dengan alasan bukan
jurusan B. Inggris. Kedua, mereka berada di pertengahan; awalnya
setuju/santai-santai saja tiba di akhir pada waktu mau ujian baru mereka
komplain. Sedangkan yang terakhir setuju; ikhlas dijalani aja, pasti ada jalan
keluar, karena hal ini adalah kebijakan yang positive untuk meningkatkan
kualitas pendidik yang berstandard nasional dan Insya Allah internasional
.
Jauh sebelum ujian besok, sebenarnya
regulasi ini sudah diinformasikan sejak awal kuliah di semester pertama. Tapi apa
boleh buat, karena pengalamanlah kita terkadang banyak mendapat pelajaran dan
terkadang kita juga bisa terjebak. Sebab kamipun sebenarnya tidak diam diri,
yang pertama kami lakukan setelah mendengar peraturan ini adalah bertanya,
menanyakan senioran “apakah betul kebijakan itu” dan hampir setiap senioran
yang kami tanyakan pasti jawabannya seperti ini “Orang abang/kakakpun dulu
begitu juga dibilang, tapi nyatanya kami tidak ada ujian toefle”. Hal inilah
yang membuat mahasiswa merasa tenang-tenang saja. Namun, ada juga sebagian
mahasiswa masih penasaran sehingga langsung menyakan kepada Dekan FITK UIN-SU. Dan
jawabannya betul, memang diterapkan tepat di tahun ini.
Kendalanya yang perlu kita ketahui,
mahasiswa FITK UIN-SU rata-rata tammatan pesantren. Mungkin presentasenya 90 %.
Dan kebanyakan dari pesantren salafi yang sama sekali tidak ada mata pelajaran
B. Inggris dulunya. Tapi apalah daya kita tidak usah lagi menyalahkan
siapa-siapa. Tak ada gunanya. Lebih baik kita angsur-angsur membaca buku-buku
toefle. Mana tahu ada yang lengket. Atau karena melihat usaha kita yang keras
Allah mudahkan kita besok. Bisa saja kebetulan apa yang kita karang itu bisa
benar. Dan jangan lupa shalat tahajjud supaya tidak cemas lagi.
Untuk seterusnya bagi mahasiswa
baru. Mulai sekarang belajarlah. Karena kalian masih memiliki banya waktu. Jangan
menunggu waktu luang. Tapi luangkanlah waktumu untuk belajar. Karena kami telah
merasakan yang belum kalian rasakan. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu ‘Alam Bisshowab
